rokok

source : google

Tisya benci rokok. Ia tidak suka melihat rokok, apalagi melihat orang merokok didepan wajah Tisya. Tisya benci rokok, sangat benci.

“Eh, lo tau ngga sih, ini tempat umum! Ngga usah deh pake acara ngerokok disini!” Marah Tisya pada seorang lelaki yang tak dikenalnya.

Lelaki itu menoleh, “Lo siapa berani-berani ngatur gue? Hidup-hidup gue, lagian gue nggak kenal lo!” Lelaki itu dengan sengaja menghembuskan sisa reduksi rokok yang ia hisap ke muka Tisya.

***

“Sayang, kamu kapan mau berhenti ngerokok sih? Ngga bagus buat kesehatan…” Tisya berujar tanpa bosan mengingatkan Raffa.

“Tisya sayaang, kamu tau kan aku ngga bisa lepas dari rokok? Rokok tuh bener-bener ‘hidup’ buatku ” jawab Raffa santai

“Raf, kamu kan janji waktu itu kamu bakal berhenti ngerokok, inget ngga?” Tisya tetap bersikukuh

“Aku udah coba, sayang. Tapi emang ngga bisa, paling ngga aku udah coba kurangi, kan? Itu karena aku sayang sama kamu” Ucap Raffa sambil mengacak pelan rambut Tisya

Tisya sayang Raffa, begitu sayangnya hingga ia tidak mempedulikan bahwa lelaki itu adalah seorang perokok berat. Namun, Tisya tak pernah bosan mengingatkan Raffa untuk menghentikan kebiasaannya menghisap barang tak berguna itu.

***

“Sayang! Cukup, aku benar-benar ngga tau gimana caranya agar kamu berhenti merokok. Aku capek ngingetin kamu terus, tapi kamu ngga pernah dengerin aku!” Tisya sampai di titik dimana ia sudah tidak tahan dengan kebiasaan Raffa. Tisya benar-benar kesal.

Raffa terdiam. Tisya melanjutkan kata-katanya, “Oke, kalo kamu tetap bersikeras mau merokok, silahkan! Aku capek, aku ngga akan peduli lagi!” Dengan suara tinggi Tisya menyelesaikan perkataannya dan meninggalkan Raffa.

***

Dua minggu ini adalah dua minggu paling menyiksa untuk Tisya. Dua minggu tanpa Raffa, komunikasi terputus, Raffa seakan hilang ditelan bumi. Raffa sama sekali tidak menghubungi Tisya, apa Raffa benar-benar sudah melupakan aku? Pikir Tisya. Dan hari itu juga, Tisya memutuskan untuk datang ke rumah Raffa, persetan dengan semua kebiasaan Raffa, Tisya benar-benar rindu Raffa, Tisya ingin melihat Raffa, Tisya tidak dapat hidup tanpa Raffa.

Tisya menyalakan mesin mobil, tanpa pikir panjang Tisya segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Raffa tanpa mempedulikan lampu lalu lintas yang memberikan tanda merah, diarah berlawanan terlihat mobil lain yang juga memacu kemudinya dengan kecepatan tinggi. Tisya terkejut. Tabrakan pun tak terelakkan.

***

Raga Tisya dibaringkan tepat di sebelah pusara yang bertuliskan “Raffa Aditya Winayaputra” pada nisannya. Raffa. Ya, Raffa bukan tidak peduli atau bahkan tidak sayang pada Tisya, ia sudah pergi mendahului Tisya, dua hari sebelum kecelakaan merenggut nyawa Tisya. Raffa mengidap kanker lidah akibat kebiasaan merokok yang terus menerus ia lakukan. Perasaan Tisya memang tidak dapat dibohongi, ia benar-benar tidak dapat hidup tanpa Raffa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s