Diorama Efek Halo (1)

1

Dia terlihat seperti orang biasa, orang normal pada umumnya. Hobi memakai kemeja flanel berwarna biru gelap, celana jeans, dan juga sepatu kanvas. Mungkin otaknya tak secerdas Rama, tetapi wajah tampannya yang dihiasi kacamata berbingkai kotak selalu membuatku berpikir mengapa ia hingga saat ini masih bertahan untuk tidak menjalin komitmen dengan siapapun. Dia bukan tipe orang yang pendiam dan menyendiri, dia sangat aktif di berbagai komunitas yang ada di kampus, senang menerjunkan diri di berbagai acara, dan juga merupakan seorang teman yang ramah dan hobi berbagi cerita.

Aku mengagumi Satya, sosok yang telah aku deskripsikan sebelumnya. Satya merupakan sosok yang berbeda untukku. Aku memang mengenalnya, tetapi aku tidak terlalu dekat dengannya seperti orang kebanyakan, karena jujur, aku merasa tidak sebanding dengan Satya. Aku cuma seorang kutu buku gagal, seorang perempuan yang disebut-sebut sebagai  penunggu perpustakaan dengan IPK yang jauh dibawah angka-angka yang kalian duga.

“Hayo! Pasti lagi ngelamunin Satya lagi kan? Kenapa ngga coba disamperin aja sih…” Nena mengaburkan semua pandangan dan khayalanku, alih-alih mendengar bantahanku, ia justru melanjutkan kata-katanya, “Tuh, mumpung dia lagi sendirian, samperin sana. Gue tau kok, selama ini lo rela jadi hantu penunggu perpustakaan demi nungguin Satya yang hobi banget nongkrong disini kan?”

Aku mendorong pelan bahu Nena, “Apaan sih, lo, rese banget. Jangan ribut-ribut ah, perpus nih, suara lo kenceng banget,” Bisikku perlahan menenangkan kehebohan Nena. Nena adalah satu-satunya sahabatku yang masih tahan terhadap obsesiku yang satu ini.

“Yaelah, jauh kali, Nge. Ngga akan kedengeran juga, lebay amat.” Nena menjawab sekenanya sambil mengambil salah satu buku yang cukup tebal, setebal kacamatanya.

Braaak! Sebuah bunyi keras mengagetkan datang dari sebuah jendela kayu tua di perpustakaan tersebut, diiringi dengan hantaman benda keras membuat rak-rak buku yang terletak disekitar jendela pun ikut bergetar.

“Unge awaaaas!” Lengkingan suara Nena mengaburkan semuanya. Rasanya ada beban berat yang mendorong tubuhku, kemudian terpental, membuatku tak sadarkan diri.

2

Ruangan ini sudah penuh sesak oleh mahasiswa-mahasiswa yang ingin mengetahui kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa waktu sebelumnya, dari kejauhan aku melihat sosok itu, sosok yang diam-diam selalu aku kagumi. Berdiam diri disana, dengan membaca setumpuk buku-buku tebal yang bahkan akupun tak berniat sekalipun untuk menyentuhnya. Dia, satu-satunya alasan yang membuatku untuk tetap duduk di kursi ini, membaca jurnal-jurnal lusuh yang sebenarnya bisa saja kuunduh melalui internet. Tetapi aku memilih untuk membaca versi cetaknya di ruangan ini, demi terus melihatnya, mengaguminya, tanpa bisa meraihnya.

Aku cukup tertegun, diam tak berdaya seolah kakiku mendadak mati rasa. Bahkan untuk melangkah menolongnya pun aku tak bisa. Kejadian itu berlalu terlalu cepat sehingga akupun sama sekali tidak melihat proses mengapa dia bisa berada dalam posisi seperti itu. Yang kutahu hanyalah dia, terkapar disudut ruangan, tak sadarkan diri dengan buku yang berserakan diatas punggungnya. Semua mengelilinginya, begitu pula aku. Seketika itu, penjaga perpustakaan datang bersama dengan beberapa dosen yang kebetulan sedang ada disana, membawanya keluar, dan aku masih saja, tak tahu harus berbuat apa.

“Satya, ngapain disini? Pak Denny udah masuk tuh, lo ngga mau kan kuliah 3 sks kita berakhir menjadi ceramah 3 sks kaya minggu lalu Cuma gara-gara lo telat? Buruan, kalo lo emang niat telat, mendingan ngga usah masuk deh, daripada nyusahin satu angkatan. “ Andi berbicara sambil berlari hingga suaranya makin lama makin mengecil. Ohiya, Pak Denny! Aku melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiriku, 09.25, masih ada 5 menit sebelum kelas berakhir dengan omelan yang lagi-lagi masalah keterlambatan.

Gimana keadaan dia sekarang? Ah, nanti saja akan kutengok ke klinik setelah kelas Pak Denny berakhir. Aku pun berlari mengejar Andi dengan kekuatan penuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s