Diorama Efek Halo (2)

3

Suara pintu terdengar berderit berulang kali, perlahan kebisingan menusuk gendang telingaku, sayup-sayup aku mendengar orang-orang berbicara, berkumpul dan aku berani bertaruh jumlah mereka banyak, karena aku merasa aku tidak dapat bebas menghirup oksigen, sesak. Aku mencoba untuk mengumpulkan sisa tenagaku untuk membuka mata, bau yang cukup menyengat dan tak asing ini memenuhi indera penciumanku. Pasti sedang di klinik. Aku sudah terbiasa mengunjungi tempat ini, ketika aku memerlukan ‘alat tempur’ yang tidak dapat kubawa-bawa ke hadapan orang banyak.

“Ungeee, kamu ngga papa? Kamu ngga kenapa-kenapa kan? Ada yang sakit ngga?” Seketika teman-temanku yang berdiri mengelilingi tempat tidur dimana aku berbaring langsung menyerangku dengan berjuta pertanyaan yang membuat kepalaku semakin pening. Aku hanya menganggukan kepala, dan mengedarkan pandangan ke sekelilingku.

“Duh, kamu tuh ya, bikin orang jantungan aja. Tadi kenapa sih sampe kamu bisa pingsan gini?” Dinda bertanya tak sabar.

“Iya nih, sampe-sampe tadi dosen pada ribut, tapi lumayan sih jadi ngga ada kelas, hehe” Bertha menimpali sambil tertawa.

“Huu, lu malah seneng ngga ada kelas, liat nih temen lagi kena musibah, masih aja bisa ketawa-tawa,” Fia memukul lengan Bertha.

“Tapi lo beneran ngga papa kan, Nge? Soalnya…” Ditha tidak melanjutkan kalimatnya, nafasnya tertahan, seolah menahannya untuk berhenti bicara.

Aku yang tadinya tidak terlalu peduli dan fokus dengan pertanyaan-pertanyaan mereka, mendadak beralih serius dan kembali memperhatikan mereka satu persatu. Setelah beberapa saat, ada satu hal yang kusadari dan satu firasat buruk muncul didalam imajinasiku, seolah mengisyaratkan pertanda dan seketika membuatku ingin berteriak dan menangis…

“NENA! MANA NENA?”

Rasa-rasanya aku ingin memberontak turun dari tempat tidurku dan mencari Nena. Dia yang terakhir kudenar suaranya, kudengar ia berteriak memanggilku sebelum aku kehilangan kesadaranku. Tetapi apa daya, kepalaku terlalu sakit dan aku bahkan sama sekali tak mampu untuk bangkit, apalagi pergi.

4

Lagi-lagi Pak Denny berceramah masalah keterlambatan, tentang betapa pentingnya menghargai waktu, tentang terbuang-buangnya waktu kalo ada yang telat, sampai pada penghakiman sepihak tentang kebobrokan dan kemunduran bangsa Indonesia yang disebabkan oleh keterlambatan mahasiswanya. Jam menunjukkan pukul 10.10. Sudah lebih dari setengah jam dan pak Denny sama sekali belum menyentuh bahan materi yang akan disampaikannya.

Pikiranku sudah melayang dari beberapa saat yang lalu dan terpaku pada satu bayangan manusia yang saat ini tengah menghantui pikiranku. Mungkin saat ini ragaku masih diam terduduk di barisan bangku paling belakang dan terlihat serius mendengarkan ‘ceramah’ Pak Denny, tetapi tidak dengan jiwaku. Namun tiba-tiba, aku tersentak kaget ketika mendengar teriakan Pak Denny.

“Ini ya, yang saya ngga ngerti! Kenapa kalian semua menganggap remeh mata kuliah saya! Banyak sekali yang mengulang di tahun ini, saya juga ngga ngerti ya, kenapa kalian semua ngga pernah serius mengikuti perkuliahan saya, padahal ini salah satu mata kuliah wajib kalau kalian masih ingin lulus dari sini,” Suaranya yang cukup lantang membuat semua mahasiswa yang awalnya kasak-kusuk berbicara kemudian terdiam.

Tetapi celotehan Pak Denny hanya tahan beberapa saat, tak berapa lama, Andi yang duduk disebelahku menyikutku dengan tangan kirinya, “Eh, bro, lo tau masih inget ngga apa yang anak-anak omongin tempo hari masalah efek halo? Gue rasa kejadian Pak Denny ini juga bisa dibilang sebuah peristiwa efek halo.” Muka Andi tampak serius meskipun aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya.

“Apaan efek halo? Kok gue baru denger sih? Itu bukannya fisika-fisika gitu ya? Lagian ngapain juga lo belajar yang kaya gituan? Sok-sok anak alam lo!” Aku merespon sekedarnya.

“Yaelah, Satya.. Satya.. Siapa yang belajar fisika sih? Efek halo itu lho yang diributin anak-anak kemaren, ketika lo suka dan tertarik sama seseorang, otomatis segala hal yang menyangkut dirinya pasti jadi ikutan menarik, bahkan yang mungkin awalnya ngga lo suka sekalipun.” Andi menjelaskan bak seorang ilmuwan yang menjelaskan penemuannya.

“Lah, terus apa hubungannya sama si Pak Denny?” Tanyaku masih belum ngeh dengan maksud yang ingin disampaikan Andi.

“Duh Satya, gini loh, kalo menurut gue, ngga Cuma ketertarikan aja yang bisa bikin efek halo, kebencian juga. Lo males kan sebenernya ikut mata kuliah ini? Pernah ngga lo kepikiran bahwa sebenernya lo bukannya ngga suka atau bermasalah di mata kuliahnya, tapi bermasalah sama dosennya! Ya ngga?” Andi dengan puas menutup penjelaskan yang menimbulkan bunyi ‘o’ panjang dari mulutku.

“Oooo, iya ya, bener juga kata lo, Ndi. Tumben lo cerdas, dapet istilah darimana lo? Biasanya kan istilah yang lo kasih suka alay tuh, tapi sekarang lumayanlah, udah naik tingkat,” Aku terkekeh pelan. Pak Denny akhirnya mengakhiri wejangannya dan dimulailah ia membahas materi, semuanya diam dan aku, kembali melanjutkan lamunanku. Betul juga kata Andi, ketika kamu tertarik dengan seseorang, kamu juga akan tertarik terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan orang itu, bahkan mungkin sebelumnya kamu tidak pernah suka terhadap hal tersebut. Ini juga yang terjadi padaku, aku sebelumnya tak pernah nongkrong di perpustakaan, sama sekali. Tapi karena dia, dia yang membuatku setiap hari selalu ke tempat yang dianggap ‘sakral’, sekalinya dulu pernah ke perpustakaan adalah untuk memperpanjang kartu yang sekarang bahkan sudah kadaluarsa lagi.

Ah, gimana keadaan kamu sekarang? Semoga kamu sudah siuman dan baik-baik saja…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s