Diorama Efek Halo (4)

8

“LO MAU APA DISINI???” Teriakan Nena memenuhi seisi ruangan, mukanya terlihat sangat marah dan kesal.

“Gue pengen tau keadaan lo, Nay, gue takut lo kenapa-kenapa karena tadi lo pingsan dan… gue khawatir sama lo, Nay..” Aku berusaha sebisa mungkin mengatur nada suara dan bicaraku agar terdengar biasa dan tak terpacing emosi.

“KHAWATIR? SETELAH TIGA TAHUN LO BARU BILANG LO KHAWATIR SAMA GUE? NGGA INGET LO SAMA APA YANG LO LAKUIN? GUE HAMPIR GILA CUMA GARA-GARA LO!” Kali ini sepertinya Nena benar-benar marah, matanya mulai berkaca-kaca dan aku benar-benar tidak sanggup melihatnya. Aku mendekatinya, mencoba untuk memegang tangannya, tetapi ia menepisnya.

“Lo…. Ngga usah deket-deketin gue lagi, gue udah cukup tersakiti dengan semua obsesi gue sama lo, gue mati-matian berusaha bangkit dari lubang dalam yang udah lo buat. Sekarang, lo dateng lagi.. mau dorong gue lagi ke lubang ya sama? IYA??”

“Nay, iya, gue tau gue salah. Maaf. Gue sadar gue emang jahat banget waktu itu, Nay…” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ia memotongnya lagi dengan nada penuh emosi.

“Dan satu lagi ya, Sat, JANGAN PANGGIL GUE NAYA LAGI. GUE SUDAH MENGHAPUS NAYA DAN SEMUA ANGAN-ANGANNYA. Jangan pernah.. Jangan…” Mata Nena yang berkaca-kaca perlahan berubah menjadi butiran-butiran air mata, aku benar-benar tak kuasa melihatnya, kudekati kembali dia, kurengkuh dia perlahan, kupeluk dia, tangisnya bertambah keras, namun ia tidak mencoba melepaskan pelukanku. Tubuhku bergetar, aku benar-benar tak mengira dia akan terluka seperti ini, jauh, lebih jauh dari apa yang aku bayangkan. Tubuhku bergetar, aku benar-benar merasa sangat berdosa.

9

Dokter klinik telah memperbolehkanku pulang dengan membekali beberapa persediaan obat. Mama menjemputku dan ia benar-benar terlihat sangat-sangat khawatir. Ia menuntunku seakan aku porselen rapuh yang mudah retak, mama selalu berlebihan, padahal aku selalu bilang berkali-kali bahwa aku baik-baik saja.

“Ma… Udah ma, malu diliatin orang banyak. Unge masih bisa jalan sendiri kok, ngga perlu dituntun kaya nenek-nenek gini,” Aku mencoba meyakinkan Mama lagi kalau aku baik-baik saja.

“Sayang.. Jelas-jelas kamu baru mengalami kecelakaan, untung kamu ngga papa. Lagian kamu gimana ceritanya sih itu di perpustakaan sampai raknya jatuh gitu? Mama heran deh..” Mama menasihatiku sambil tetap menuntunku.

“Mama, Unge ngga papa, Ma. Beneran. Mama harusnya berterimakasih sama Nena, dia yang nolongin Unge, Ma. Kalo ngga, ngga tau deh Unge sekarang masih bisa ngobrol sama mama kaya gini apa ngga,” Jawabku sambil agak tercekat.

“Oiya, dimana Nena? Kok tadi mama ngga ngeliat dia sih? Udah pulang duluan?” Tanya mama bingung sambil mencari-cari siapa tau ada Nena di sekitar beliau.

Spontan aku menggelengkan kepalaku, “Ngga ada, Ma. Nena dirawat di Rumah Sakit Cipta Harapan. Dia terkena cidera cukup serius di punggungnya..”

“Hah? Ya sudah, sebelum pulang kita mampir kesana dulu yuk, lagian searah juga sama jalan pulang kita. Kita beli buah dulu aja, Nena suka apel kan ya?” Mama terlihat sangat bersemangat. Entah aku harus mengiyakan ajakan mama, atau lebih baik menolaknya, akhirnya aku hanya mengikuti langkah beliau berjalan menuju tempat parkir dimana Mama menyimpan mobilnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s