Diorama Efek Halo (5)

-1

Naya, Begitu orang-orang biasa memanggilnya. Naya sudah jatuh cinta pada Satya sejak pertama kali mereka duduk dikelas yang sama. Naya jatuh cinta pada Satya yang pintar, Satya yang ramah dan suka berteman dengan siapa saja, Satya yang selalu ada jika Naya membutuhkannya. Naya sangat terobsesi dengan Satya, dan rasa-rasanya Naya tahu bahwa Satya menyadarinya. Naya, mungkin satu-satunya perempuan yang rela melakukan apapun demi bersama orang yang disayanginya, termasuk belajar. Ya, Naya sangat membenci belajar, mengerjakan tugas, bergulat dengan soal-soal latihan. Hal ini sangat berpengaruh kepada prestasinya, Naya termasuk dalam posisi 10 terbawah dikelasnya.

“Nayaaa, lihat-lihat-lihat!” Satya mengacungkan sepucuk amplop yang telah dirobek ujungnya kepada Naya.

“Apaan, Sat? Tunggu.. Jangan bilang…” Naya yang awalnya tak peduli mendadak membulatkan bola matanya saat teringat sesuatu, sedangkan Satya masih tersenyum penuh arti.

“Ya, Nay. Gue keterima di Universitas yang gue pengen tanpa harus tes! Jadi kemaren pas gue masukin rapot gue dari kelas satu, mereka menyeleksi dan akhirnya… GUE RESMI JADI ANAK KULIAHAAAN!” Satya tak tahan dan akhirnya luapan emosi kegembiraan itupun muncul.

“Waah, syukurlah, gue ikut seneng, Sat. Ah, gue gimana ya.. Gue aja ngga yakin gue bisa ngelanjutin kuliah.” Keluh Naya

“Semangat dong, Nay! Lo pasti bisa kok. Hmm, gue mau nantang lo nih, gue tau lo juga pengen masuk universitas gue kan? Nah, kalo lo bisa…. Lo boleh minta apa aja dari gue, walaupun lo nyuruh gue untuk ambil edelweiss di ujung pegunungan jayawijaya,” Tantang Satya pada Naya.

Tepat saat Satya menyelesaikan deklarasi tantangannya, seperti ada sepercik harapan muncul dalam benak Naya. Selama ini, Naya berpikir bahwa sebentar lagi ia pasti akan berpisah dengan Satya, dan hal ini yang kemudian kian mendukung demotivasi yang dialami Naya. Namun sekarang, Naya seperti mendapatkan pencerahan atas segala kegundahannya, “Beneran nih gue boleh minta apa aja? Bener ya?”

Satya menganggukan kepalanya. Sebenarnya, jauh dalam lubuk hatinya, ia berani bertaruh Naya tidak akan bisa menembus universitas yang memiliki passing grade kedua tertinggi se-Indonesia, maka dari itu ia berani menjanjikan hal yang bahkan menurutnya tidak mungkin. Mengambil Edelweiss di Jayawijaya? Orang gila kali yang mau ngambil, pikirnya.

0

Hari kini berganti bulan, tak terasa Naya telah menempuh tes seleksi ujian masuk universitas, dan ya, ia dengan mantap menghitamkan pilihannya pada universitas dimana Satya akan melanjutkan studinya. Kini Naya dapat bernafas lega setelah kurang lebih tiga bulan lamanya ia harus menenggelamkan dirinya dalam latihan soal di buku-buku tebal, tiba-tiba mengikuti bimbingan belajar intensif setiap hari, dan sama sekali ia tak pernah lupa membawa buku saku kecil untuk membantunya menghafalkan segala sesuatu demi dapat menembus universitas tersebut.

Hari pengumuman pun tiba, tak sabar rasanya Naya menanti datangnya koran hari ini. Ayahnya telah menyarankan untuk mengecek kelulusannya di internet, tetapi Naya tak mengindahkannya. Ia ingin benar-benar ingin merasakan euphoria kemenangan yang telah memberikan pertanda untuknya dan ia sangat yakin jika ia memang diterima di universitas tersebut. Kalo gue masuk, gue bener-bener harus mengungkapkan perasaan gue ke Satya! Gue yakin sebenernya dia juga menyimpan rasa yang sama ke gue, dengan optimis Naya berharap. Walaupun memang pada realitanya, tak ada seorangpun yang tahu apakah spekulasi Naya ini memang dirasakan pula oleh Satya, atau hanya sekadar bayang-bayang belaka.

Belum sempat Naya menelusuri halaman utama dari surat kabar yang baru saja ia terima, telepon genggamnya berbunyi. Satya.. Kenapa dia nelpon pagi-pagi begini? Naya segera mengangkat teleponnya dan segera disambut oleh suara ceria Satya yang gegap gempita.

“Nayaaaa, selamat yaaa, gila gue ngga nyangka banget lo bisa tembus. Gila-gila-gila! Gue salut, Nay! Sekali lagi selamat yaa!” Suara diujung telepon membuat mulut Naya ternganga, tak percaya dengan apa yang didengarnya, ia segera menutup telepon tanpa mendengarkan Satya lebih lanjut. Ia langsung membuka situs pengumuman penerimaan dan kemudian mengetikkan deretan nomor pendaftarannya, satu detik.. dua detik.. muncul tampilan dengan foto diri Naya, muncul disertai dengan ucapan Selamat yang menyatakan Naya diterima di Universitas tersebut. Tak elak Naya berteriak sampai ia kehabisan suara, serta merta ia peluk semua orang dirumahnya, lalu ia kembali menghubungi Satya.

“Satyaaaa, gue lolooooooos! Gue lolos gue lolos!” Teriak Naya histeris saat si penerima telepon bahkan belum sempat berkata apa-apa. “GUE MAU KETEMU LO POKOKNYA, SATYA! INI HARUS DIRAYAIN! Hahahhaha”

“Hahaha, gue bilang juga apa tadi, selamat yaaa, malah ditutup teleponnya. Boleh, yuk, sekalian ada yang pengen gue obrolin ke lo nih, hehehe.” Satya menyanggupi ajakan Naya dan tak lama kemudian, Naya segera menutup teleponnya lalu kemudian besiap-siap untuk menyambut malam terbaiknya.

***

Pelayan-pelayan sibuk membersihkan minuman yang tumpah di lantai restoran, live music yang memperdengarkan kisah-kisah romantis pun terdiam, semua pandangan tertuju pada perempuan yang duduk seorang diri. Lelaki yang awalnya duduk dihadapan perempuan itu mendadak menghilang, pergi menyusul perempuan lain yang datang dengan tiba-tiba dan membuat kegaduhan dengan memporak-porandakan segala hal yang ada di atas meja makan pasangan tersebut.

Naya, dialah perempuan itu. Sekujur tubuhnya mendadak beku, kaku, sama sekali tak bisa digerakkan. Masih terekam dengan jelas peristiwa yang terjadi beberapa menit silam. Ketika seorang perempuan menghampiri meja tempat ia dan Satya sedang bersama, dan tanpa aba-aba, perempuan itu langsung mengeluarkan kata-kata yang cukup pedas, mengambil gelas yang ada didepan Naya dan mengeluarkan isi gelas tersebut tepat di wajah Naya. Dengan tetap tak mengendalikan amarahnya, perempuan itu meninggalkan restoran, lalu tak berapa lama Satya menyusulnya. Naya pun tak dapat mencerna dan memahami maksud perkataannya, Naya tidak mengenal siapa perempuan itu, tapi yang Naya tau pasti, dia orang yang sangat berarti dalam hidup Satya, sampai-sampai ia meninggalkan Naya begitu saja.

Rasanya Naya ingin mengakhiri hidupnya detik itu juga. Ia sudah berusaha sekuat tenaganya untuk mendapatkan apa yang Satya tantang, bahkan ketika ia harus melawan segala kekurangan dan kelemahan yang ia miliki. Hingga detik itu pula, Naya merasa telah menjadi orang yang sangat-sangat bodoh karena mengharapkan seseorang yang mungkin sama sekali tidak pernah memikirkannya. Naya benar-benar menyesal hingga ia akhirnya berjanji untuk tak lagi mengenal Satya. Satya, akan menghilang selama-lamanya dari hidup Naya. Gue ngga kenal Satya, sahut Naya lirih sambil menggigit bibirnya, menahan tangis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s