Perbedaan, Suatu Kesadaran Otak Realis dalam Liberalis

Manusia, selalu diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Klise? Memang. Tetapi, apakah subjek yang dianggap klise ini telah dimaknai mendalam oleh setiap ia yang hadir di dunia? Kurasa belum. Perbedaan, Aku meyakini bahwa perbedaan adalah salah satu cara semesta memberi pelajaran untuk dapat saling mengisi dan menghargai. Dengan perbedaan, manusia bisa belajar untuk membagi apa yg menjadi kelebihannya, dan memaklumi apa yg menjadi kekurangan manusia lainnya. Kekurangan yang ia miliki, dapat ditambal dengan kelebihan yang dimiliki manusia lain, begitu juga sebaliknya, kekurangan yang dimiliki manusia lain, dapat dikamuflasekan oleh kelebihan yang ia miliki.

Tetapi sepertinya, aku yang berotak liberal ini kemudian harus menyadari bahwa tak semua subjek memiliki pandangan dan prinsip yang sama, tak semua manusia ingin belajar dari perbedaan, dan tak sedikit dari mereka yang berotak kontras denganku. Otak realis mereka berpandangan, ketika mereka telah memiliki kelebihan yang bisa dibanggakan, mereka merasa sama sekali tak membutuhkan manusia lain untuk mengaburkan kekurangan yang mereka miliki.

Bukankah setiap manusia hadir disini sepaket baik-buruknya? hitam-putihnya? sisi dewasa dan ke-kanak-kanak-annya? sisi feminin dan maskulinnya? Beserta hal kontras lainnya? Dimana sebuah bentuk penghargaan yang ada, sebagai seseorang yang telah memutuskan untuk menerima seseorang lainnya untuk hidup serta hadir dalam harinya? Bukankah itu konsekuensi yang sejak awal harusnya disadari, yang secara implisit terucap saat mereka bertemu, ‘aku-menerima-kamu-tak-hanya-saat-senang-tetapi-juga-saat-kau-berada-di-titik-terendahmu’

Saat ini aku tak hanya berceloteh tentang perbedaan, tetapi juga tentang komitmen. Ya, komitmen. Perbedaan hanyalah sebuah batu kecil di sebuah pegunungan yang ingin kau capai puncaknya. Komitmen juga tak melulu masalah asmara ataupun organisasional seperti yang terpikirkan manusia pada umumnya. Menjadikan seorang manusia sebagai orang yang dipercaya, sebagai orang yang selalu dapat diandalkan dan tak pernah disangka akan ‘berkhianat’, manusia berotak liberal percaya dengan istilah sahabat, adalah sebuah keputusan yang sangat-sangat besar, dan keputusan itu bukan terletak pada otakmu, logikamu sama sekali tak ikut ambil bagian. Tetapi hati, ia sendiri yang bekerja ekstra keras untuk memilah dan menempatkan siapakah yang seharusnya dan memang layak untuk diperjuangkan.

Bandung, 30 Juni 2013

2.12 pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s