A Head Full of Dreams Tour (2017): Bangkok

Hello again, reality!

I’ve just came back from my very first holiday after I entered the work-life, and it such a great vacation. Wanna guess where I’ve visited? Yes, Thailand! Bangkok, spesifically. I really want to visit Bangkok from several years ago, but it always be canceled for one and another reason. And tadaa…. Finally, I made it! My family and I took a short vacation after the ‘two-years-hiatus’ for one strong reason, yes, it because of COLPLAY! *hands all over*

Hmm, do you want me to share the places I’ve visited or the experience of me, attended the Coldplay’s Concert first? Maybe I’ll share about the places later ya, because I cannot wait to tell the most amazing performance I’ve ever watched. It’s really worth to chase Coldplay til ‘three-and-half-hours’ of flight! I’m so happy I could be a part for the awesomeness.

20170407_180915

ticket to happiness

The concert was held on Friday, April 7th at Rajamangala National Stadium Bangkok, yes, a little bit far from the city center also away from BTS or MRT station. So, I reached the stadium by Bus with a help of Google Maps (Thank God, nowadays the tech are so helpful. Cannot imagine I could survive there bcs mostly they can’t speak English), and I arrived safely at 2.30 pm. Actually the gates are open at 5.00 pm, and I didn’t have to line up bcs I got the seated position which already has its number. But, I have to line up to buy some official merchandise of Coldplay! Luckily, I’ve got the t-shirt, hoodie, and tote bag! Yeay!

It’s almost 5 o’clock, time to get in! The entrance gates literally full of people, there’re a bunch of securities who did some bag checked to make sure if we didn’t brought any dangerous goods.

20170407_171609

People lined up to get into the stadium

20170407_174651

from helicopter’s view

20170407_175033

Let’s have some fun, people!

Long story shorted, the appearance of Coldplay was scheduled at 9 pm, but an hour before that, there’s an opening singer called Jess Kent from Australia (if I’m not mistaken). I didn’t take any photograph of her to save the batteries for the main show, hahaha. The stadium were so full of people, especially the standing class. But they’re all look so happy and excited!

20170407_184638

the standing pen

20170407_204125

the seated zone

Finally it’s 9 o’clock, and here they are! OMG, I still couldn’t help my self to cry because I never imagine to be here, sing along with Chris Martin, Guy Berryman, Jonny Buckland, and Will Champion. Such a grateful! :’)

The show opened when Chris Martin ran from the backstage and sang the album titled ‘A Head Full of Dream’, everybody yelled, everybody sang, everybody’s happy! After that, they sang ‘Yellow’, ‘Every Teardrop is a Waterfall’, and my favorite one, ‘The Scientist’! They brought at least 23 songs, not only the new songs which taken from ‘A Head Full of Dreams (2016)’ album, but also the oldies like ‘Don’t Panic’ from the album ‘Parachutes (2000)’, or  ‘In my Place’ from the album ‘A Rush Blood to the Head (2002)’, also the most popular song, ’Fix You’ from the album ‘X & Y (2005)’.

And everyone got to be so surprised when the intro of ‘Something Just Like This’ played, which we knew that the single just released a month ago! Coldplay really knew how to entertain their fans! Wanna join the awesomeness? Go check some shoots of mine (sorry if you couldn’t see anything, bcs it so faraway, hahaha).

This slideshow requires JavaScript.

Love is in the air

The show ended at approximately 11 pm with ‘Up & Up’ as the last song. The closing part was also entertaining, a lights, fireworks, really made the sky so bright. I promise to myself I’ll see them again next time, maybe on another country. Well, thank you Coldplay for the great show. Thank you for ‘everglow’-ing my holiday! 🙂

“but the changing of winds, and the way waters flow, life as short as the falling of snow, and now I’m gonna miss you I know”  (everglow, coldplay)

Melangkah Pergi

walking-away

source: google.com/embracingtheshadows

 

Dia tak lagi menghampiri dalam hangatnya fajar maupun indahnya senja. Dia sudah pergi meninggalkan pelajaran dan pengalaman yang tidak pernah perempuan itu lupakan. Semua angan, harapan, ekspektasi tentang membangun mimpi bersama telah hilang. Kumpulan imaji terindah perlahan sirna seiring berputarnya waktu, hingga tiba detik itu. Detik ketika bayangan mimpi buruk perempuan itu benar benar terwujud menjadi realita pahit.

***

“Aku mengambil semua keputusan ini dengan segala pertimbangan, Ditta! Kamu ngga seharusnya beranggapan apa yang sebenarnya tidak kamu pahami. Kamu tahu seperti apa kan perasaanku, itu masih sama seperti dulu, hanya saat ini keadaannya yang berbeda.”, Papar Glenn penuh keseriusan.

Ditta tetap terpaku ditempatnya, menggigit bibirnya. Banyak hal yang ingin ia lontarkan, namun Ditta sadar, jika ia mengeluarkan sepatah kata saja, Ditta yakin tangisnya akan pecah. Ditta tidak menyangka bahwa ia harus kembali merasakan perihnya apa yang orang sebut patah hati, apalagi dengan seorang Glenn. Alam bawah sadar Ditta membawa memorinya ke masa beberapa tahun silam, masa-masa pertama sejak Ditta dan Glenn saling mengenal dan berbagi kisah hidup mereka.

***

Jam menunjukkan pukul 17.25, sudah saatnya Ditta harus berangkat. Namun pesan singkat yang baru saja datang membuatnya enggan untuk beranjak. Kenapa dia pengen banget ketemu aku sih? Gumam Ditta. Ya, sudah beberapa pekan pikiran Ditta selalu dihantui oleh hari ini, hari dimana Ditta harus kembali menemui Glenn setelah sekian lama ia mencoba untuk mengelak dari pertemuan pertama mereka, kini ia tak lagi punya alasan yang cukup masuk akal untuk kembali menghindar.

Sudah sampai mana? Hati-hati ya. See you tonight, Dit. I cannot be more excited than today! Belum sempat Ditta membalas pesan sebelumnya, pesan lain kembali datang dari Glenn. Ditta mematut dirinya di depan cermin, sebenarnya Ditta bukan tidak mau bertemu dengan Glenn, tetapi Ditta menyadari, ia bisa saja jatuh cinta pada lelaki ini dengan semua kata dan ceritanya. Dari semua pengalaman dan angan masa depannya.

Telepon genggam Ditta berbunyi, Ditta terbangun dari lamunannya. Nama Arsya muncul pada layar, mampus gue, pikir Ditta.

“Iya Sya, aku udah di jalan kok. Macet nih, pokoknya jam 6 aku sampe sana deh”, serobot Ditta tanpa mengucap salam kepada Arsya.

“Duh, Dit. Lo ngapain aja sih jam segini belum nyampe? Pada nungguin nih, awas aja kalo sampe telat. Yaudah, ntar langsung ke barisan depan ya! Gimana sih undangan VIP kok telat. Malu-maluin gue lo”, sahut Arsya dengan kesal.

“Iya. Tunggu aja, Sya. Ngga akan telat deh, bener” Ditta menutup teleponnya sambil berlari menuju mobil sedan birunya. Ia memacu dengan kecepatan yang cukup tinggi dengan bayangan Arsya menghantuinya, kegelisahan tentang Glenn terlupakan untuk sementara.

Jam menunjukkan pukul 18.05 ketika Ditta memakirkan mobilnya di pelataran hall. Mati gue, bisa ngamuk si mantan bos besar nih. Bayangan kemarahan Arsya terus menghantui Ditta selama ia berlari menuju ruangan tempat acara berlangsung, hingga tanpa sadar ada seseorang yang terus memperhatikannya dari kejauhan. Glenn.

“Soriiii, aku telat dikit. Acaranya belum mulai kan?” Arsya terlihat kesal namun hanya menganggukan kepalanya dan mengisyaratkan Ditta untuk diam dan duduk. Ditta langsung mengambil tempat disebelah Arsya. Akhirnya sampai juga, gumam Ditta sembari mengatur nafasnya yang masih tersengal akibat terburu-buru.

Tak lama telepon genggam Ditta bergetar, sepertinya ada panggilan masuk, pikir Ditta. Perlahan ia mengeluarkan  handphone dari sakunya, melihat siapa yang meneleponnya. Glenn! Jantung Ditta serasa berhenti berdetak sepersekian detik. Dimana Glenn? Ditta berusaha untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, namun ia tak kunjung menemukan sosok yang dicarinya. Tiba-tiba layar handphone Ditta menunjukkan adanya pesan singkat yang masuk, aku dibelakang. Berputarlah 180 derajat dan kamu akan menemukanku, begitu bunyi pesan singkat dari Glenn.

Ditta terdiam, pandangannya lurus kedepan dan tidak berani sedikitpun ia memutar kepalanya. Bahkan pada saat acara makan malam, Ditta menempel terus kepada Arsya yang mulai terlihat heran dengan tingkah aneh Ditta. Untung dibedain ruangan makan  vip sama regular, kalo gini sepertinya akan aman. Habis ini harus segera ijin Arsya supaya bisa pulang cepet….

“Dit, lo kenapa deh aneh banget, tumben ngga berisik kayak biasanya? Abis kesambet apa tadi di jalan?”, teguran Arsya setengah mati mengagetkan Ditta.

“Sya, habis makan malam aku pulang ya? Kan acara intinya udah beres”, Ditta tak mengindahkan pertanyaan Arsya sebelumnya.

“Ngga. Lo stay sampai beres. Tadi telat, masa sekarang mau pulang cepet? Tunggu bubar semua, baru lo boleh pulang”, tegas Arsya. “Yuk masuk lagi, udah mau lanjut acaranya”

Ingin rasanya Ditta segera keluar dari ruangan dan kembali pulang tanpa menemui Glenn. Pikirannya kacau, tidak fokus sama sekali. Waktu bergulir begitu lama, hingga tiba saatnya yang ditunggu-tunggu Ditta, penutupan! Pokoknya acara selesai aku harus langsung pergi, sebodo sama Arsya yang penting kan udah dateng sampai acara kelar, pikir Ditta.

Tepat disaat Ditta akan beranjak dari tempat duduknya, seseorang menghampirinya. Glenn! Ditta kembali terpaku sepersekian detik didepan Glenn.

“Dit…” sapa Glenn tersenyum seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat.

“Eh, hai Glenn. Apa kabar?”, balas Ditta gugup. Oke, let’s face this.

“Baik. Eh duduk dulu sini, ngga buru-buru balik kan?”, ajak Glenn ramah. Ditta tersenyum, menggeleng dengan enggan. “Bukannya kamu yang harus buru-buru balik? Ditungguin tuh”, Ditta menunjuk sekumpulan orang yang berdiri di dekat pintu keluar.

“Hahaha iya nih, kenapa susah banget sih mau ngobrol langsung sama kamu. Hmm, hari jumat, ada acara ngga? Boleh jalan sebelum aku balik?” tawar Glenn.

“Disini kan ngga ada apa-apa, emang kamu pengen kemana?”, otak Ditta tak berhenti memikirkan segala cara untuk mengatakan tidak, tetapi ia seolah tersihir dengan semua kata yang dilontarkan Glenn.

“Kemana aja, kan kamu yang lebih tau. Deal ya, Jumat jam 7 pagi, aku tunggu. Kamu hati-hati ya, pulangnya”, Glenn menepuk pundak Ditta sambil beranjak pergi.

Ditta masih terdiam di tempatnya, belum beranjak hingga Arsya menghampirinya, “Dit, kok masih disini? Gue pikir udah balik dari tadi”, pertanyaan Arsya mengagetkan Ditta.

“Iya, tadi ada urusan dulu bentar. Aku balik ya, Sya udah malem”, pamit Ditta sambil berjalan menuju pelataran parkir.

***

“Dit….”, panggilan Glenn menyadarkan Ditta dari semua kenangannya. Mengingat semuanya membuat rasa sedih Ditta menjadi rasa marah dan sakit.

“Kamu masih inget waktu pertama kali kita ketemu? Masih inget waktu kedua kalinya kita ketemu lagi setelah pertemuan pertama kita? It hurts me a lot, when I know you’re not really into me and I used to lived in a world full of my own imagination, Glenn”, Ditta tak dapat membendung perasaannya, tatapannya kosong dengan mata berkaca-kaca.

“Mungkin memang aku yang salah, Glenn. Aku yang terlalu berharap banyak, aku yang terlalu sayang sampai dengan bodohnya berpikir kamu merasakan hal yang sama. Dan, Glenn, satu yang perlu kamu tahu, ini juga ngga adil buat Dia, Glenn. Dia ngga tau apa-apa tentang kita, kan, Glenn? Mikir ngga kamu itu jahat?”

Glenn terdiam sesaat, “Itu bener-bener ngga seperti yang kamu pikir, Dit. Iya, jujur aku memang sudah dekat sama Dia beberapa waktu terakhir. Tapi ngga seperti yang kamu anggap, kita ngga nyakitin siapapun. Waktu aku sama kamu, aku bahagia, kamu juga kan? Everything’s happened for a reason, Dit. The one you should be reminded of

Ditta sudah lelah untuk menanggapi pembelaan Glenn. Energi Ditta sudah habis, bukan hanya karena apa yang terjadi hari ini, tetapi sejak beberapa waktu sebelumnya. Saat Ditta mengetahui bukan hanya ia yang memiliki panggilan sayang untuk Glenn, bukan hanya Ditta yang hadir untuk memberikan support terbesarnya untuk Glenn, bukan hanya Ditta yang menjadi tempat Glenn membagi cerita dan angan masa depannya, bukan hanya Ditta satu-satunya perempuan yang hadir mengisi hati Glenn.

Mungkin memang sudah saatnya untuk pergi dan merelakan Glenn, cepat atau lambat waktu ini akan tiba, batin Ditta. Ditta masih tidak percaya dengan semuanya, Ditta mengingat apa yang ditemukannya pekan lalu, ketika Ditta menemukan semuanya, semua permainan yang secara apik dan lihai diperankan oleh Glenn.

***

“Dit…. Masih lost contact sama Glenn? Kenapa ngga kamu duluan yang nanya sih dia kemana? Gila deh, betah banget kamu begini mulu. Ngga capek apa?”, celotehan Rara mengagetkan Ditta dari lamunannya.

Sudah beberapa bulan ini Glenn sama sekali tidak menghubungi Ditta, awalnya Ditta merasa cuek dan sudah menjadi hal yang biasa baginya. Namun, perasaan Ditta kali ini berbeda, Ditta merasa ada yang salah entah apa dan kenapa. Pikiran Ditta semakin tak menentu ketika akhirnya ia memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Glenn, dan menemukan foto Glenn dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Keduanya tersenyum bahagia seolah memancarkan cinta.

“Liat ini deh, awalnya aku ngga tau ini siapa dan cuek aja. Tapi tau kan aku kalo udah penasaran gimana, akhirnya aku cari tau dan…. You won’t believe what I’ve just found, Ra……”, Ditta memberikan handphone miliknya pada Rara. Seketika mata Rara membesar seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ini….. Dit, Please! Kamu tinggalin dia, aku udah berkali-kali bilang sama kamu, dia tuh ngga bener. Kenapa sih kamu suka banget nyakitin diri sendiri? Terus ini sekarang apa? Kamu nemuin apa selain ini?”, Rara dengan penuh emosi menghujani Ditta dengan amarahnya.

“Buka history browser aku, dan jangan kaget sama apa yang kamu lihat ya. Dan, please, jangan dibahas lagi didepanku. Aku ngajak kamu ketemu cuma Karena aku butuh temen buat menenangkan diri, bukan untuk ribut. Aku tau aku salah…..”, dengan malas aku menimpali keingintahuan Rara. Tanpa pikir panjang Rara menelusuri history browser di handphone Ditta dengan seksama seraya sesekali melontarkan sumpah serapah yang entah ditujukan kepada siapa. Ditta sudah tidak peduli lagi.

“Ditta, ini post udah dari dua tahun lalu, Ditta…..”, suara Rara mengisyaratkan kemarahan, kesedihan, dan belas kasihan. Rara sendiri tidak tahu harus menghibur Ditta seperti apa, Ditta selalu begini, pikir Rara.

“Dit….. Entah gimana kalo aku jadi kamu, bisa setenang ini. If I were you, mungkin rasanya aku udah ngga mau hidup lagi”, Rara memeluk sahabat kesayangannya itu.

“Aku sudah capek, Ra. Air mataku bahkan sudah kering, sudah habis. Dan sepertinya aku memang sudah siap untuk menghadapi hal ini. From the beginning, I feel that this relationship won’t go anywhere. And sooner or later, I should be ready for this. Dan ya, this is it. Cuma memang salahnya aku, I brought this relationship a little bit too far, I admit it….”, curhat Ditta tanpa nada.

“Glenn itu baik. Mungkin dia ada, dia hadir dalam kehidupanku untuk kasih aku pelajaran, kasih aku pengalaman, kasih aku banyak cerita yang mungkin ngga pernah aku dapet dari orang lain. Dan dia juga yang mengajarkan aku pentingnya menghargai diri aku sendiri….. I should thanked Glenn for that. Dan mungkin sekarang sudah saatnya aku melepaskan Glenn, untuk kebaikanku, kebaikan dia. Mungkin kebahagiaan Glenn bukan bersamaku…. Dan haknya juga untuk memilih”, Ditta tak kuasa menahan tangisnya, satu dua bulir airmata membasahi pipinya. Sebenarnya Ditta masih amat sakit hati atas apa yang diperbuat Glenn, seolah Glenn sama sekali tidak menghargai perasaannya.

“Aku pastikan Glenn akan menyesal seumur hidupnya ngelepasin perempuan terbaik kayak kamu, Dit. Mulai sekarang…. Kamu ngga usah cari-cari Glenn lagi, Dit. Masih banyak yang peduli dan sayang sama kamu. Bukan Glenn, jangan sia-siakan waktu kamu cuma buat dia. Nah sekarang, kita makan yu….k”, belum selesai Rara menyelesaikan kalimatnya, ia menyadari Ditta tidak mendengarkannya. Ditta malah dengan cueknya memainkan handphonenya, dan terlihat menelepon seseorang.

“Halo, Glenn. Bisa ketemu hari minggu besok?”

***

“Glenn, sampaikan salam dan permintaan maafku ya sama dia. Aku yakin dia yang memang bisa buat kamu bahagia. Jangan sampai kamu sakitin dia. Aku tau Glenn, kamu baik. Kamu akan menjaga orang-orang yang kamu sayangi, janji sama aku ya?”, suara Ditta mulai melemah. Ditta sudah tidak mau berdebat dan ia ingin pergi sesegera mungkin dari hadapan Glenn.

“Jika suatu hari nanti kamu lihat aku di jalan, dipanggil ya! Jangan cuek aja. Kita sudah sama-sama dewasa, aku yakin keputusanmu itu sudah melalui banyak pertimbangan. Terima kasih ya sudah pernah hadir dan kasih banyak pelajaran buat aku”, Ditta mengulurkan tangannya pada Glenn, berharap ia masih kuat menahan tangisnya.

“Dit…… Aku minta maaf buat semuanya, maaf kalo kamu harus tau dengan cara kaya gini. Maaf kalo ini semua menyakitkan buat kamu, aku sama sekali ngga bermaksud apa-apa. Dan please, jangan berubah. Aku berharap kejadian ini ngga mengubah apapun, aku, masih Glenn yang kamu kenal. Walaupun aku merasa ini akan menjadi terakhir kalinya aku ketemu kamu, dalam jangka waktu yang lama”, Glenn membalas jabatan tangan Ditta.

Ditta segera menarik tangannya, “Oke Glenn. I think that’s it, good luck for everything ya! See you when I see you, Glenn”, Ditta membalikkan badannya berjalan menjauhi Glenn. Tak terdengar panggilan Glenn di telinganya, Ditta mempercepat langkah menuju basement tempat ia memakirkan mobilnya sebelumnya tangisnya pecah.

Ditta, terima kasih untuk semuanya. Semua yang terjadi ada alasannya, Dit, termasuk apa yang terjadi sama kita. Jaga dirimu dimanapun kamu berada ya, Dit. Tetap jadi Ditta yang tangguh, ceria, dan menyenangkan untuk semua orang. Pesan itu datang dari Glenn, pesan terakhir Glenn.

Aku sama sekali ngga pernah menyesali pertemuanku denganmu, Glenn. Aku pernah bahagia sama kamu dan aku ngga akan pernah lupain itu. Just remind me as a part of your good memory, and I’ll let you stay as one of the best on my long-term-memory. Thanks for everything, Glenn. Balas Ditta untuk terakhir kalinya, susah payah Ditta mengetik karena layar kacanya basah dipenuhi air matanya.

Ditta menghapus air matanya, siap untuk menyetir kemanapun perasaan membawanya. Namun, sebelum Ditta meninggalkan pelataran parkir, Ditta mengecek kembali handphone miliknya. Membuka daftar kontak dan mencari nama Glenn.

Are you sure to block Glenn Rizhaldy?

After you block contacts, you will not receive calls or messages from them, press cancel or ok.

Ditta menghela nafas,

Ok.