Rasa Pagiku

Kamis hari ini,
Mentari masih enggan memberi kehangatan untuk pagiku.
Pagiku masih dingin, pagiku masih merindukan malamnya. Pagiku masih ingin bercengkrama dengan rindunya.

Kamis hari ini,
Gerimis mulai turun, menyatakan mentari tak datang untuk pagiku.
Pagiku bersedih, karena janji temunya dengan mentari harus ia tunda.
Pagiku bangkit dengan gontai, mempertanyakan bagaimana harinya akan berlalu.
Pagiku tak bersemangat, pagiku tak tersenyum, pagiku lemah.

Kamis hari ini,
Pagiku melihatmu dari kejauhan, sangat jauh.
Namun pagiku merasakan kehadiranmu, sangat dekat.
Tiba-tiba pagiku tersenyum kembali, pagiku mengingatmu.
“Sepertinya aku tak memerlukan mentari hari ini, hariku akan menyenangkan”, ujarnya.

Sayang tahukah kamu? Pagiku mencintaimu.

Jakarta, 19 Juli 2018
07.12

Advertisements

Perempuan dan Rindunya

Perempuan itu memandang dari kejauhan, terlihat olehnya sesosok anak kecil berlari dengan riangnya kearah seorang wanita. Ia membungkuk, menyambut dekapan anak kecil itu.

“Ibu, lihat apa yang aku dapat. Aku membawa ini untuk Ibu”, sayup terdengar anak kecil itu berbicara sambil memberikan sekuntum bunga mawar putih.

Wanita itu tersenyum seraya berkata, “Terima kasih, Sayang…. Kamu dapat ini darimana?”

Anak kecil itu mengarahkan telunjuknya ke arah belakang, wanita itu membelai kepala anaknya lembut. Anak kecil itu kemudian melihat bingkisan di tangan kanan ibunya, dan berkata kembali, “Ibu bawa apa?”

“Ini kesukaan kamu, kita pulang yuk… Kita makan bersama jika Bapak pulang kerja nanti”, jawabnya.

Anak kecil itu terlihat melompat kegirangan. Tak terasa air mata perempuan yang melihat dari kejauhan terjatuh, hatinya bergetar. Ia pun tidak mengerti apa yang ia rasakan.

Dia adalah perempuan terpintar dalam bermanipulasi,
Dia adalah perempuan terbaik dalam menahan airmatanya,

Dia adalah perempuan tercerdas dalam mengatur emosinya,
Dia adalah perempuan terhebat yang selalu memberikan tawanya.

Tapi tidak kali ini,
Hatinya gusar, hatinya gundah, tanpa mengerti apa yang saat ini dialaminya. Namun kemudian, sekelebat bayangan itu datang, berbicara padanya bahwa ini adalah rasa rindu akan keluarga kecilnya di masa datang.

Jakarta, 18 Juli 2018

22.18

Bandung dan Kamu

Bandung dan Kamu,
Seolah satu dengan rindu yang memelukku setiap waktu. Hijau pinus dan dinginnya udara menaklukan aku dan kekuatanku melawan dunia, senyum dan caramu melihatku menghancurkan dinding tinggi yang kubangun baik-baik. Oh tidak, kamu tidak menghancurkannya. Kamu mengetuknya.

Apa yang lebih membahagiakan dibanding Bandung dan Kamu.
Lirih asa itu membisikkan betapa bahagianya Bandung dapat bertemu denganmu, memberikan senyumnya padamu, memastikan aku aman bersamamu.

Bandung dan Kamu,
Bersatu membentuk satu kekuatan untuk selalu membuatku rindu. Rasa dan pelukan yang selalu dapat meredam tangisku, asa dan kata yang selalu dapat membuaiku, tanpa dapat ku temukan definisi bahagia lain selain itu.

Jakarta, 17 Juli 2018

06.06

Cerita Dibalik Senja

source: unsplash.com

Dibalik temaram senja, Gadis itu menengadahkan kepalanya, “Hai Langit, rasa-rasanya aku sudah lama tak bercerita padamu, kau ada waktu?”

Langit tersenyum, memberikan waktunya.

Gadis itu bercerita panjang mengenai kegundahan yang ada di benaknya, langit mendengarkan sembari sesekali mengangguk-angguk seraya mengiyakan.

“Langit, apa yang kau lakukan ketika kau bersedih dan gundah?” tanya Gadis itu.

“Tergantung, aku akan menjatuhkan tangisku jika memang tak tertahankan”, jawab Langit.

“Kau tidak malu? semua akan memanggilmu Langit yang cengeng karena menangis dan menyusahkan hidup orang lain”, Gadis itu bertanya kembali.

“Tidak, buat apa malu? Mungkin bagi sebagian mereka akan mencemoohku, tapi tak sedikit mereka yang dapat mengambil berkah dari kesedihanku. Jika kau berpikir mereka berbahagia diatas penderitaanmu, tidak. Berpikirlah bahwa kesedihanmu itu bisa menjadi anugerah buat orang lain, dibalik kesedihanmu, kau membantu mereka”, tegas Langit.

“Aku masih tak paham, bagaimana bisa? Lalu bagaimana pada akhirnya kau dapat mengatasi kesedihanmu? Bukankah menangis tidak dapat memberikan solusi?”, Gadis itu bertambah bingung dengan penjelasan Langit.

“Menangislah jika kau merasa perlu melepaskan amarah dan emosimu, hingga pada suatu titik, kau akan berpikir jernih dan perlahan engkau akan mendapatkan suatu kesimpulan dan keputusan atas apa yang tengah kau alami”, ucap Langit bijak.

Gadis itu terdiam, gadis itu terus mencoba untuk mencerna apa yang diungkapkan Langit, “Sekarang aku harus pergi, sudah saatnya aku pulang. Sayang, hidup itu sebenarnya indah, jangan kau buat menjadi rumit”, Langit tersenyum sambil meninggalkan Gadis itu.

Gadis itu masih berdiri terdiam, tak lama nampak seorang lelaki menggapai tangannya seraya berkata lirih, “Aku mencarimu, Sayang, ayo kita pulang…..”