Melangkah Pergi

walking-away

source: google.com/embracingtheshadows

 

Dia tak lagi menghampiri dalam hangatnya fajar maupun indahnya senja. Dia sudah pergi meninggalkan pelajaran dan pengalaman yang tidak pernah perempuan itu lupakan. Semua angan, harapan, ekspektasi tentang membangun mimpi bersama telah hilang. Kumpulan imaji terindah perlahan sirna seiring berputarnya waktu, hingga tiba detik itu. Detik ketika bayangan mimpi buruk perempuan itu benar benar terwujud menjadi realita pahit.

***

“Aku mengambil semua keputusan ini dengan segala pertimbangan, Ditta! Kamu ngga seharusnya beranggapan apa yang sebenarnya tidak kamu pahami. Kamu tahu seperti apa kan perasaanku, itu masih sama seperti dulu, hanya saat ini keadaannya yang berbeda.”, Papar Glenn penuh keseriusan.

Ditta tetap terpaku ditempatnya, menggigit bibirnya. Banyak hal yang ingin ia lontarkan, namun Ditta sadar, jika ia mengeluarkan sepatah kata saja, Ditta yakin tangisnya akan pecah. Ditta tidak menyangka bahwa ia harus kembali merasakan perihnya apa yang orang sebut patah hati, apalagi dengan seorang Glenn. Alam bawah sadar Ditta membawa memorinya ke masa beberapa tahun silam, masa-masa pertama sejak Ditta dan Glenn saling mengenal dan berbagi kisah hidup mereka.

***

Jam menunjukkan pukul 17.25, sudah saatnya Ditta harus berangkat. Namun pesan singkat yang baru saja datang membuatnya enggan untuk beranjak. Kenapa dia pengen banget ketemu aku sih? Gumam Ditta. Ya, sudah beberapa pekan pikiran Ditta selalu dihantui oleh hari ini, hari dimana Ditta harus kembali menemui Glenn setelah sekian lama ia mencoba untuk mengelak dari pertemuan pertama mereka, kini ia tak lagi punya alasan yang cukup masuk akal untuk kembali menghindar.

Sudah sampai mana? Hati-hati ya. See you tonight, Dit. I cannot be more excited than today! Belum sempat Ditta membalas pesan sebelumnya, pesan lain kembali datang dari Glenn. Ditta mematut dirinya di depan cermin, sebenarnya Ditta bukan tidak mau bertemu dengan Glenn, tetapi Ditta menyadari, ia bisa saja jatuh cinta pada lelaki ini dengan semua kata dan ceritanya. Dari semua pengalaman dan angan masa depannya.

Telepon genggam Ditta berbunyi, Ditta terbangun dari lamunannya. Nama Arsya muncul pada layar, mampus gue, pikir Ditta.

“Iya Sya, aku udah di jalan kok. Macet nih, pokoknya jam 6 aku sampe sana deh”, serobot Ditta tanpa mengucap salam kepada Arsya.

“Duh, Dit. Lo ngapain aja sih jam segini belum nyampe? Pada nungguin nih, awas aja kalo sampe telat. Yaudah, ntar langsung ke barisan depan ya! Gimana sih undangan VIP kok telat. Malu-maluin gue lo”, sahut Arsya dengan kesal.

“Iya. Tunggu aja, Sya. Ngga akan telat deh, bener” Ditta menutup teleponnya sambil berlari menuju mobil sedan birunya. Ia memacu dengan kecepatan yang cukup tinggi dengan bayangan Arsya menghantuinya, kegelisahan tentang Glenn terlupakan untuk sementara.

Jam menunjukkan pukul 18.05 ketika Ditta memakirkan mobilnya di pelataran hall. Mati gue, bisa ngamuk si mantan bos besar nih. Bayangan kemarahan Arsya terus menghantui Ditta selama ia berlari menuju ruangan tempat acara berlangsung, hingga tanpa sadar ada seseorang yang terus memperhatikannya dari kejauhan. Glenn.

“Soriiii, aku telat dikit. Acaranya belum mulai kan?” Arsya terlihat kesal namun hanya menganggukan kepalanya dan mengisyaratkan Ditta untuk diam dan duduk. Ditta langsung mengambil tempat disebelah Arsya. Akhirnya sampai juga, gumam Ditta sembari mengatur nafasnya yang masih tersengal akibat terburu-buru.

Tak lama telepon genggam Ditta bergetar, sepertinya ada panggilan masuk, pikir Ditta. Perlahan ia mengeluarkan  handphone dari sakunya, melihat siapa yang meneleponnya. Glenn! Jantung Ditta serasa berhenti berdetak sepersekian detik. Dimana Glenn? Ditta berusaha untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, namun ia tak kunjung menemukan sosok yang dicarinya. Tiba-tiba layar handphone Ditta menunjukkan adanya pesan singkat yang masuk, aku dibelakang. Berputarlah 180 derajat dan kamu akan menemukanku, begitu bunyi pesan singkat dari Glenn.

Ditta terdiam, pandangannya lurus kedepan dan tidak berani sedikitpun ia memutar kepalanya. Bahkan pada saat acara makan malam, Ditta menempel terus kepada Arsya yang mulai terlihat heran dengan tingkah aneh Ditta. Untung dibedain ruangan makan  vip sama regular, kalo gini sepertinya akan aman. Habis ini harus segera ijin Arsya supaya bisa pulang cepet….

“Dit, lo kenapa deh aneh banget, tumben ngga berisik kayak biasanya? Abis kesambet apa tadi di jalan?”, teguran Arsya setengah mati mengagetkan Ditta.

“Sya, habis makan malam aku pulang ya? Kan acara intinya udah beres”, Ditta tak mengindahkan pertanyaan Arsya sebelumnya.

“Ngga. Lo stay sampai beres. Tadi telat, masa sekarang mau pulang cepet? Tunggu bubar semua, baru lo boleh pulang”, tegas Arsya. “Yuk masuk lagi, udah mau lanjut acaranya”

Ingin rasanya Ditta segera keluar dari ruangan dan kembali pulang tanpa menemui Glenn. Pikirannya kacau, tidak fokus sama sekali. Waktu bergulir begitu lama, hingga tiba saatnya yang ditunggu-tunggu Ditta, penutupan! Pokoknya acara selesai aku harus langsung pergi, sebodo sama Arsya yang penting kan udah dateng sampai acara kelar, pikir Ditta.

Tepat disaat Ditta akan beranjak dari tempat duduknya, seseorang menghampirinya. Glenn! Ditta kembali terpaku sepersekian detik didepan Glenn.

“Dit…” sapa Glenn tersenyum seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat.

“Eh, hai Glenn. Apa kabar?”, balas Ditta gugup. Oke, let’s face this.

“Baik. Eh duduk dulu sini, ngga buru-buru balik kan?”, ajak Glenn ramah. Ditta tersenyum, menggeleng dengan enggan. “Bukannya kamu yang harus buru-buru balik? Ditungguin tuh”, Ditta menunjuk sekumpulan orang yang berdiri di dekat pintu keluar.

“Hahaha iya nih, kenapa susah banget sih mau ngobrol langsung sama kamu. Hmm, hari jumat, ada acara ngga? Boleh jalan sebelum aku balik?” tawar Glenn.

“Disini kan ngga ada apa-apa, emang kamu pengen kemana?”, otak Ditta tak berhenti memikirkan segala cara untuk mengatakan tidak, tetapi ia seolah tersihir dengan semua kata yang dilontarkan Glenn.

“Kemana aja, kan kamu yang lebih tau. Deal ya, Jumat jam 7 pagi, aku tunggu. Kamu hati-hati ya, pulangnya”, Glenn menepuk pundak Ditta sambil beranjak pergi.

Ditta masih terdiam di tempatnya, belum beranjak hingga Arsya menghampirinya, “Dit, kok masih disini? Gue pikir udah balik dari tadi”, pertanyaan Arsya mengagetkan Ditta.

“Iya, tadi ada urusan dulu bentar. Aku balik ya, Sya udah malem”, pamit Ditta sambil berjalan menuju pelataran parkir.

***

“Dit….”, panggilan Glenn menyadarkan Ditta dari semua kenangannya. Mengingat semuanya membuat rasa sedih Ditta menjadi rasa marah dan sakit.

“Kamu masih inget waktu pertama kali kita ketemu? Masih inget waktu kedua kalinya kita ketemu lagi setelah pertemuan pertama kita? It hurts me a lot, when I know you’re not really into me and I used to lived in a world full of my own imagination, Glenn”, Ditta tak dapat membendung perasaannya, tatapannya kosong dengan mata berkaca-kaca.

“Mungkin memang aku yang salah, Glenn. Aku yang terlalu berharap banyak, aku yang terlalu sayang sampai dengan bodohnya berpikir kamu merasakan hal yang sama. Dan, Glenn, satu yang perlu kamu tahu, ini juga ngga adil buat Dia, Glenn. Dia ngga tau apa-apa tentang kita, kan, Glenn? Mikir ngga kamu itu jahat?”

Glenn terdiam sesaat, “Itu bener-bener ngga seperti yang kamu pikir, Dit. Iya, jujur aku memang sudah dekat sama Dia beberapa waktu terakhir. Tapi ngga seperti yang kamu anggap, kita ngga nyakitin siapapun. Waktu aku sama kamu, aku bahagia, kamu juga kan? Everything’s happened for a reason, Dit. The one you should be reminded of

Ditta sudah lelah untuk menanggapi pembelaan Glenn. Energi Ditta sudah habis, bukan hanya karena apa yang terjadi hari ini, tetapi sejak beberapa waktu sebelumnya. Saat Ditta mengetahui bukan hanya ia yang memiliki panggilan sayang untuk Glenn, bukan hanya Ditta yang hadir untuk memberikan support terbesarnya untuk Glenn, bukan hanya Ditta yang menjadi tempat Glenn membagi cerita dan angan masa depannya, bukan hanya Ditta satu-satunya perempuan yang hadir mengisi hati Glenn.

Mungkin memang sudah saatnya untuk pergi dan merelakan Glenn, cepat atau lambat waktu ini akan tiba, batin Ditta. Ditta masih tidak percaya dengan semuanya, Ditta mengingat apa yang ditemukannya pekan lalu, ketika Ditta menemukan semuanya, semua permainan yang secara apik dan lihai diperankan oleh Glenn.

***

“Dit…. Masih lost contact sama Glenn? Kenapa ngga kamu duluan yang nanya sih dia kemana? Gila deh, betah banget kamu begini mulu. Ngga capek apa?”, celotehan Rara mengagetkan Ditta dari lamunannya.

Sudah beberapa bulan ini Glenn sama sekali tidak menghubungi Ditta, awalnya Ditta merasa cuek dan sudah menjadi hal yang biasa baginya. Namun, perasaan Ditta kali ini berbeda, Ditta merasa ada yang salah entah apa dan kenapa. Pikiran Ditta semakin tak menentu ketika akhirnya ia memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Glenn, dan menemukan foto Glenn dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Keduanya tersenyum bahagia seolah memancarkan cinta.

“Liat ini deh, awalnya aku ngga tau ini siapa dan cuek aja. Tapi tau kan aku kalo udah penasaran gimana, akhirnya aku cari tau dan…. You won’t believe what I’ve just found, Ra……”, Ditta memberikan handphone miliknya pada Rara. Seketika mata Rara membesar seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ini….. Dit, Please! Kamu tinggalin dia, aku udah berkali-kali bilang sama kamu, dia tuh ngga bener. Kenapa sih kamu suka banget nyakitin diri sendiri? Terus ini sekarang apa? Kamu nemuin apa selain ini?”, Rara dengan penuh emosi menghujani Ditta dengan amarahnya.

“Buka history browser aku, dan jangan kaget sama apa yang kamu lihat ya. Dan, please, jangan dibahas lagi didepanku. Aku ngajak kamu ketemu cuma Karena aku butuh temen buat menenangkan diri, bukan untuk ribut. Aku tau aku salah…..”, dengan malas aku menimpali keingintahuan Rara. Tanpa pikir panjang Rara menelusuri history browser di handphone Ditta dengan seksama seraya sesekali melontarkan sumpah serapah yang entah ditujukan kepada siapa. Ditta sudah tidak peduli lagi.

“Ditta, ini post udah dari dua tahun lalu, Ditta…..”, suara Rara mengisyaratkan kemarahan, kesedihan, dan belas kasihan. Rara sendiri tidak tahu harus menghibur Ditta seperti apa, Ditta selalu begini, pikir Rara.

“Dit….. Entah gimana kalo aku jadi kamu, bisa setenang ini. If I were you, mungkin rasanya aku udah ngga mau hidup lagi”, Rara memeluk sahabat kesayangannya itu.

“Aku sudah capek, Ra. Air mataku bahkan sudah kering, sudah habis. Dan sepertinya aku memang sudah siap untuk menghadapi hal ini. From the beginning, I feel that this relationship won’t go anywhere. And sooner or later, I should be ready for this. Dan ya, this is it. Cuma memang salahnya aku, I brought this relationship a little bit too far, I admit it….”, curhat Ditta tanpa nada.

“Glenn itu baik. Mungkin dia ada, dia hadir dalam kehidupanku untuk kasih aku pelajaran, kasih aku pengalaman, kasih aku banyak cerita yang mungkin ngga pernah aku dapet dari orang lain. Dan dia juga yang mengajarkan aku pentingnya menghargai diri aku sendiri….. I should thanked Glenn for that. Dan mungkin sekarang sudah saatnya aku melepaskan Glenn, untuk kebaikanku, kebaikan dia. Mungkin kebahagiaan Glenn bukan bersamaku…. Dan haknya juga untuk memilih”, Ditta tak kuasa menahan tangisnya, satu dua bulir airmata membasahi pipinya. Sebenarnya Ditta masih amat sakit hati atas apa yang diperbuat Glenn, seolah Glenn sama sekali tidak menghargai perasaannya.

“Aku pastikan Glenn akan menyesal seumur hidupnya ngelepasin perempuan terbaik kayak kamu, Dit. Mulai sekarang…. Kamu ngga usah cari-cari Glenn lagi, Dit. Masih banyak yang peduli dan sayang sama kamu. Bukan Glenn, jangan sia-siakan waktu kamu cuma buat dia. Nah sekarang, kita makan yu….k”, belum selesai Rara menyelesaikan kalimatnya, ia menyadari Ditta tidak mendengarkannya. Ditta malah dengan cueknya memainkan handphonenya, dan terlihat menelepon seseorang.

“Halo, Glenn. Bisa ketemu hari minggu besok?”

***

“Glenn, sampaikan salam dan permintaan maafku ya sama dia. Aku yakin dia yang memang bisa buat kamu bahagia. Jangan sampai kamu sakitin dia. Aku tau Glenn, kamu baik. Kamu akan menjaga orang-orang yang kamu sayangi, janji sama aku ya?”, suara Ditta mulai melemah. Ditta sudah tidak mau berdebat dan ia ingin pergi sesegera mungkin dari hadapan Glenn.

“Jika suatu hari nanti kamu lihat aku di jalan, dipanggil ya! Jangan cuek aja. Kita sudah sama-sama dewasa, aku yakin keputusanmu itu sudah melalui banyak pertimbangan. Terima kasih ya sudah pernah hadir dan kasih banyak pelajaran buat aku”, Ditta mengulurkan tangannya pada Glenn, berharap ia masih kuat menahan tangisnya.

“Dit…… Aku minta maaf buat semuanya, maaf kalo kamu harus tau dengan cara kaya gini. Maaf kalo ini semua menyakitkan buat kamu, aku sama sekali ngga bermaksud apa-apa. Dan please, jangan berubah. Aku berharap kejadian ini ngga mengubah apapun, aku, masih Glenn yang kamu kenal. Walaupun aku merasa ini akan menjadi terakhir kalinya aku ketemu kamu, dalam jangka waktu yang lama”, Glenn membalas jabatan tangan Ditta.

Ditta segera menarik tangannya, “Oke Glenn. I think that’s it, good luck for everything ya! See you when I see you, Glenn”, Ditta membalikkan badannya berjalan menjauhi Glenn. Tak terdengar panggilan Glenn di telinganya, Ditta mempercepat langkah menuju basement tempat ia memakirkan mobilnya sebelumnya tangisnya pecah.

Ditta, terima kasih untuk semuanya. Semua yang terjadi ada alasannya, Dit, termasuk apa yang terjadi sama kita. Jaga dirimu dimanapun kamu berada ya, Dit. Tetap jadi Ditta yang tangguh, ceria, dan menyenangkan untuk semua orang. Pesan itu datang dari Glenn, pesan terakhir Glenn.

Aku sama sekali ngga pernah menyesali pertemuanku denganmu, Glenn. Aku pernah bahagia sama kamu dan aku ngga akan pernah lupain itu. Just remind me as a part of your good memory, and I’ll let you stay as one of the best on my long-term-memory. Thanks for everything, Glenn. Balas Ditta untuk terakhir kalinya, susah payah Ditta mengetik karena layar kacanya basah dipenuhi air matanya.

Ditta menghapus air matanya, siap untuk menyetir kemanapun perasaan membawanya. Namun, sebelum Ditta meninggalkan pelataran parkir, Ditta mengecek kembali handphone miliknya. Membuka daftar kontak dan mencari nama Glenn.

Are you sure to block Glenn Rizhaldy?

After you block contacts, you will not receive calls or messages from them, press cancel or ok.

Ditta menghela nafas,

Ok.

Advertisements

Diorama Efek Halo (4)

8

“LO MAU APA DISINI???” Teriakan Nena memenuhi seisi ruangan, mukanya terlihat sangat marah dan kesal.

“Gue pengen tau keadaan lo, Nay, gue takut lo kenapa-kenapa karena tadi lo pingsan dan… gue khawatir sama lo, Nay..” Aku berusaha sebisa mungkin mengatur nada suara dan bicaraku agar terdengar biasa dan tak terpacing emosi.

“KHAWATIR? SETELAH TIGA TAHUN LO BARU BILANG LO KHAWATIR SAMA GUE? NGGA INGET LO SAMA APA YANG LO LAKUIN? GUE HAMPIR GILA CUMA GARA-GARA LO!” Kali ini sepertinya Nena benar-benar marah, matanya mulai berkaca-kaca dan aku benar-benar tidak sanggup melihatnya. Aku mendekatinya, mencoba untuk memegang tangannya, tetapi ia menepisnya.

“Lo…. Ngga usah deket-deketin gue lagi, gue udah cukup tersakiti dengan semua obsesi gue sama lo, gue mati-matian berusaha bangkit dari lubang dalam yang udah lo buat. Sekarang, lo dateng lagi.. mau dorong gue lagi ke lubang ya sama? IYA??”

“Nay, iya, gue tau gue salah. Maaf. Gue sadar gue emang jahat banget waktu itu, Nay…” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ia memotongnya lagi dengan nada penuh emosi.

“Dan satu lagi ya, Sat, JANGAN PANGGIL GUE NAYA LAGI. GUE SUDAH MENGHAPUS NAYA DAN SEMUA ANGAN-ANGANNYA. Jangan pernah.. Jangan…” Mata Nena yang berkaca-kaca perlahan berubah menjadi butiran-butiran air mata, aku benar-benar tak kuasa melihatnya, kudekati kembali dia, kurengkuh dia perlahan, kupeluk dia, tangisnya bertambah keras, namun ia tidak mencoba melepaskan pelukanku. Tubuhku bergetar, aku benar-benar tak mengira dia akan terluka seperti ini, jauh, lebih jauh dari apa yang aku bayangkan. Tubuhku bergetar, aku benar-benar merasa sangat berdosa.

9

Dokter klinik telah memperbolehkanku pulang dengan membekali beberapa persediaan obat. Mama menjemputku dan ia benar-benar terlihat sangat-sangat khawatir. Ia menuntunku seakan aku porselen rapuh yang mudah retak, mama selalu berlebihan, padahal aku selalu bilang berkali-kali bahwa aku baik-baik saja.

“Ma… Udah ma, malu diliatin orang banyak. Unge masih bisa jalan sendiri kok, ngga perlu dituntun kaya nenek-nenek gini,” Aku mencoba meyakinkan Mama lagi kalau aku baik-baik saja.

“Sayang.. Jelas-jelas kamu baru mengalami kecelakaan, untung kamu ngga papa. Lagian kamu gimana ceritanya sih itu di perpustakaan sampai raknya jatuh gitu? Mama heran deh..” Mama menasihatiku sambil tetap menuntunku.

“Mama, Unge ngga papa, Ma. Beneran. Mama harusnya berterimakasih sama Nena, dia yang nolongin Unge, Ma. Kalo ngga, ngga tau deh Unge sekarang masih bisa ngobrol sama mama kaya gini apa ngga,” Jawabku sambil agak tercekat.

“Oiya, dimana Nena? Kok tadi mama ngga ngeliat dia sih? Udah pulang duluan?” Tanya mama bingung sambil mencari-cari siapa tau ada Nena di sekitar beliau.

Spontan aku menggelengkan kepalaku, “Ngga ada, Ma. Nena dirawat di Rumah Sakit Cipta Harapan. Dia terkena cidera cukup serius di punggungnya..”

“Hah? Ya sudah, sebelum pulang kita mampir kesana dulu yuk, lagian searah juga sama jalan pulang kita. Kita beli buah dulu aja, Nena suka apel kan ya?” Mama terlihat sangat bersemangat. Entah aku harus mengiyakan ajakan mama, atau lebih baik menolaknya, akhirnya aku hanya mengikuti langkah beliau berjalan menuju tempat parkir dimana Mama menyimpan mobilnya.

Diorama Efek Halo (3)

5

Ditengah kebingunganku mencari Nena, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu klinik. Kecemasanku akan Nena hilang seketika. Bukan, bukan Nena yang datang, tetapi seseorang yang sangat tidak kukira dan bahkan aku sangat tidak menyangka ia akan menjengukku disini. Satya. Dia masih berdiri diseberang sana, di ujung pintu. Apa aku tidak salah lihat? Berkali-kali aku mencoba meyakinkan penglihatanku yang mungkin saja aku berhalusinasi melihat sosok itu datang kemari, untuk melihatku. Apa aku bermimpi? Apa aku berhalusinasi? Suara hatiku terus menerus menderukan pertanyaan yang sama. Dia berjalan ke arahku, dia menghampiri tempatku membaringkan tubuh. DEMI TUHAN, APAKAH AKU SEDANG TIDAK BERMIMPI????

6

Nena terus menerus menatap jam dinding, jarum jam telah menunjukkan pukul 13.25. Itu tandanya, sudah lebih dari tiga jam ia berada disini, namun belum menunjukkan tanda-tanda keadaan akan segera membaik. Ingin rasanya Nena pergi dan segera menghampiri Bunga, ia pasti mengira aku kenapa-kenapa, pikirnya. Tetapi, ia belum bisa pergi, ia khawatir jika ia meninggalkan rumah sakit, bagaimana jika tiba-tiba dokter mencarinya untuk menginformasikan hal-hal penting?

***

Aku tiba di sebuah kamar rawat inap dengan nafas tersengal, aku tidak mengira ia akan separah ini. Aku belum tau secara pasti memang bagaimana keadaanya saat ini, dan aku harus memastikan keadaannya, persetan dengan harga diri dan gengsi, yang penting sekarang, aku tahu bagaimana keadaannya, dan semoga ia benar-benar baik-baik saja. Aku mengetuk pintu dan perlahan memutar kenop pintu tersebut untuk memasuki kamar yang sedang dihuni oleh pasien bernama Vanessa Nayara itu.

“SATYA??? KENAPA LO BISA ADA DISINI???”

Aku terdiam, membatu ditempatku berdiri. Tuhan, aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Terakhir kali aku berdiri dihadapannya seperti ini adalah tiga tahun yang lalu. Dan saat itu, aku membuatnya menangis.

7

Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Dia menghampiriku, tetapi bukan itu yang membuat jantungku sekarang berdebar tidak karuan antara cemburu, marah, bingung, entah aku harus berbuat apa sekarang dan harus meluapkannya kepada siapa. Tadi, Satya menanyakan Nena. YA, NENA! Aku benar-benar tidak paham mengapa mendadak Satya mencari Nena, apa mereka saling kenal? Kurasa tidak. Seingatku Nena tidak pernah bercerita perihal Satya, dan jika Nena memang mengenal Satya, dia pasti akan menceritakannya padaku. Atau… ada sesuatu yang terjadi diantara mereka yang membuatnya enggan menceritakannya padaku?

Dan, betapa terkejutnya aku ketika teman-temanku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, mengetahui ternyata Nena dibawa ke rumah sakit karena cidera punggung untuk menyelamatkanku. Bingung. Aku benar-benar tak tahu aku harus bagaimana. Disalah satu sisi aku mempertanyakan segala sesuatu menyangkut hubungan Nena dan Satya, di sisi lainnya aku merasa bersalah karena Nena saat ini terluka karena akan menyelamatkanku.

Diorama Efek Halo (2)

3

Suara pintu terdengar berderit berulang kali, perlahan kebisingan menusuk gendang telingaku, sayup-sayup aku mendengar orang-orang berbicara, berkumpul dan aku berani bertaruh jumlah mereka banyak, karena aku merasa aku tidak dapat bebas menghirup oksigen, sesak. Aku mencoba untuk mengumpulkan sisa tenagaku untuk membuka mata, bau yang cukup menyengat dan tak asing ini memenuhi indera penciumanku. Pasti sedang di klinik. Aku sudah terbiasa mengunjungi tempat ini, ketika aku memerlukan ‘alat tempur’ yang tidak dapat kubawa-bawa ke hadapan orang banyak.

“Ungeee, kamu ngga papa? Kamu ngga kenapa-kenapa kan? Ada yang sakit ngga?” Seketika teman-temanku yang berdiri mengelilingi tempat tidur dimana aku berbaring langsung menyerangku dengan berjuta pertanyaan yang membuat kepalaku semakin pening. Aku hanya menganggukan kepala, dan mengedarkan pandangan ke sekelilingku.

“Duh, kamu tuh ya, bikin orang jantungan aja. Tadi kenapa sih sampe kamu bisa pingsan gini?” Dinda bertanya tak sabar.

“Iya nih, sampe-sampe tadi dosen pada ribut, tapi lumayan sih jadi ngga ada kelas, hehe” Bertha menimpali sambil tertawa.

“Huu, lu malah seneng ngga ada kelas, liat nih temen lagi kena musibah, masih aja bisa ketawa-tawa,” Fia memukul lengan Bertha.

“Tapi lo beneran ngga papa kan, Nge? Soalnya…” Ditha tidak melanjutkan kalimatnya, nafasnya tertahan, seolah menahannya untuk berhenti bicara.

Aku yang tadinya tidak terlalu peduli dan fokus dengan pertanyaan-pertanyaan mereka, mendadak beralih serius dan kembali memperhatikan mereka satu persatu. Setelah beberapa saat, ada satu hal yang kusadari dan satu firasat buruk muncul didalam imajinasiku, seolah mengisyaratkan pertanda dan seketika membuatku ingin berteriak dan menangis…

“NENA! MANA NENA?”

Rasa-rasanya aku ingin memberontak turun dari tempat tidurku dan mencari Nena. Dia yang terakhir kudenar suaranya, kudengar ia berteriak memanggilku sebelum aku kehilangan kesadaranku. Tetapi apa daya, kepalaku terlalu sakit dan aku bahkan sama sekali tak mampu untuk bangkit, apalagi pergi.

4

Lagi-lagi Pak Denny berceramah masalah keterlambatan, tentang betapa pentingnya menghargai waktu, tentang terbuang-buangnya waktu kalo ada yang telat, sampai pada penghakiman sepihak tentang kebobrokan dan kemunduran bangsa Indonesia yang disebabkan oleh keterlambatan mahasiswanya. Jam menunjukkan pukul 10.10. Sudah lebih dari setengah jam dan pak Denny sama sekali belum menyentuh bahan materi yang akan disampaikannya.

Pikiranku sudah melayang dari beberapa saat yang lalu dan terpaku pada satu bayangan manusia yang saat ini tengah menghantui pikiranku. Mungkin saat ini ragaku masih diam terduduk di barisan bangku paling belakang dan terlihat serius mendengarkan ‘ceramah’ Pak Denny, tetapi tidak dengan jiwaku. Namun tiba-tiba, aku tersentak kaget ketika mendengar teriakan Pak Denny.

“Ini ya, yang saya ngga ngerti! Kenapa kalian semua menganggap remeh mata kuliah saya! Banyak sekali yang mengulang di tahun ini, saya juga ngga ngerti ya, kenapa kalian semua ngga pernah serius mengikuti perkuliahan saya, padahal ini salah satu mata kuliah wajib kalau kalian masih ingin lulus dari sini,” Suaranya yang cukup lantang membuat semua mahasiswa yang awalnya kasak-kusuk berbicara kemudian terdiam.

Tetapi celotehan Pak Denny hanya tahan beberapa saat, tak berapa lama, Andi yang duduk disebelahku menyikutku dengan tangan kirinya, “Eh, bro, lo tau masih inget ngga apa yang anak-anak omongin tempo hari masalah efek halo? Gue rasa kejadian Pak Denny ini juga bisa dibilang sebuah peristiwa efek halo.” Muka Andi tampak serius meskipun aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya.

“Apaan efek halo? Kok gue baru denger sih? Itu bukannya fisika-fisika gitu ya? Lagian ngapain juga lo belajar yang kaya gituan? Sok-sok anak alam lo!” Aku merespon sekedarnya.

“Yaelah, Satya.. Satya.. Siapa yang belajar fisika sih? Efek halo itu lho yang diributin anak-anak kemaren, ketika lo suka dan tertarik sama seseorang, otomatis segala hal yang menyangkut dirinya pasti jadi ikutan menarik, bahkan yang mungkin awalnya ngga lo suka sekalipun.” Andi menjelaskan bak seorang ilmuwan yang menjelaskan penemuannya.

“Lah, terus apa hubungannya sama si Pak Denny?” Tanyaku masih belum ngeh dengan maksud yang ingin disampaikan Andi.

“Duh Satya, gini loh, kalo menurut gue, ngga Cuma ketertarikan aja yang bisa bikin efek halo, kebencian juga. Lo males kan sebenernya ikut mata kuliah ini? Pernah ngga lo kepikiran bahwa sebenernya lo bukannya ngga suka atau bermasalah di mata kuliahnya, tapi bermasalah sama dosennya! Ya ngga?” Andi dengan puas menutup penjelaskan yang menimbulkan bunyi ‘o’ panjang dari mulutku.

“Oooo, iya ya, bener juga kata lo, Ndi. Tumben lo cerdas, dapet istilah darimana lo? Biasanya kan istilah yang lo kasih suka alay tuh, tapi sekarang lumayanlah, udah naik tingkat,” Aku terkekeh pelan. Pak Denny akhirnya mengakhiri wejangannya dan dimulailah ia membahas materi, semuanya diam dan aku, kembali melanjutkan lamunanku. Betul juga kata Andi, ketika kamu tertarik dengan seseorang, kamu juga akan tertarik terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan orang itu, bahkan mungkin sebelumnya kamu tidak pernah suka terhadap hal tersebut. Ini juga yang terjadi padaku, aku sebelumnya tak pernah nongkrong di perpustakaan, sama sekali. Tapi karena dia, dia yang membuatku setiap hari selalu ke tempat yang dianggap ‘sakral’, sekalinya dulu pernah ke perpustakaan adalah untuk memperpanjang kartu yang sekarang bahkan sudah kadaluarsa lagi.

Ah, gimana keadaan kamu sekarang? Semoga kamu sudah siuman dan baik-baik saja…