Suara Emas Dinda

Image

source: cartoon modern

Di suatu desa terpencil bernama sendang asih, hiduplah seorang anak perempuan kecil yang cantik jelita dan memiliki suara yang sangat merdu, Dinda namanya. Suara indah yang dimilikinya sudah sangat terkenal di seluruh penjuru desa, melalui suara indahnya itu, ia dapat menyembuhkan siapa saja yang sedang mengalami sakit, baik itu sakit yang biasa saja hingga sakit yang parah pun tak ada yang tak dapat ia sembuhkan.

Di lain tempat, terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang arif bijaksana. Masyarakatnya hidup makmur dalam kepemimpinan beliau, semua keinginan rakyat tercukupi, tak ada satupun yang mengalami kekurangan. Hingga pada suatu saat, tiba-tiba raja jatuh sakit, lalu semua tabib di kerajaan tersebut dipanggil untuk menyembuhkan raja mereka yang arif bijaksana itu.

Namun sayangnya, tak ada satupun tabib di kerajaan tersebut dapat menyembuhkan penyakit sang  raja. Bahkan mereka pun tidak mengetahui apa penyakit yang sebenarnya diderita sang raja. Akhirnya, pihak penasihat kerajaan memberi saran kepada raja untuk mengadakan sayembara bagi siapa saja yang berhasil menyembuhkan penyakit tersebut.

Sayembara pun sampai ke telinga gadis kecil yang tinggal di desa sendang asih. Iapun tergerak hatinya untuk mencoba memenangkan sayembara itu dengan menyembuhkan penyakit sang raja. Namun sayangnya ayahnya tidak memberikan izin kepada gadis kecil itu untuk pergi ke kerajaan yang letaknya jauh dari desa sendang asih.

“ Ayah, bolehkan Dinda pergi ke kerajaan seberang untuk membantu menyembuhkan Raja yang sedang sakit?” Tanya Dinda kepada ayahnya.

“Tidak, Dinda! Ayah sudah bilang berapa kali bahwa kamu tidak boleh pergi ke kerajaan itu! Kerajaan itu letaknya jauh dari desa kita ini, Dinda!” Jawab Ayah Dinda.

“Tapi, Ayah… Jika Dinda bisa menyembuhkan raja seberang, Kita bisa memenangkan sayembara yaitu emas yang cukup besar nilainya, ayah! Dengan emas itu, ayah tidak perlu lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Sudah waktunya ayah beristirahat dan menikmati masa tua ayah dengan tenang.” Jelas Dinda bersikeras meyakinkan ayahnya.

Ayah dinda menghela nafas, “ Dinda sayang, kamu memang anak yang sangat baik dan berbakti pada ayah, tetapi ayah tidak mungkin membiarkan kamu pergi seorang diri ke kerajaan seberang yang jauh itu. Lebih baik ayah terus bekerja daripada ayah harus kehilangan kamu demi emas-emas itu.”

“Tenang ayah, kalo masalah itu tidak usah ayah takutkan, Dinda tidak akan pergi sendirian, Dinda akan ditemani oleh Rifa, teman Dinda. Kami akan selamat sampai sana, ayah. Percayalah!” Terang Dinda seakan tidak sabar menghadapi ayahnya yang keras kepala itu.

Ayahnya pun tersenyum, “Baiklah kalau Dinda bersikeras untuk pergi ke kerajaan itu, Ayah benar-benar tidak bisa melawan keras kepalamu itu, Tapi ingat satu hal, kamu tidak boleh pergi lebih dari lima hari, jika lebih, ayah akan menyusulmu mendatangi raja itu, paham?” Syarat ayah pada Dinda.

“Baik Ayah! Ayah tenang saja, Dinda akan kembali secepat dinda bisa, dan memenangkan sayembara itu untuk ayah” Jawab Dinda tegas.

Keesokan harinya, berangkatlah Dinda dan Rifa ke kerajaan seberang tempat dimana raja tersebut jatuh sakit, untuk mencapai tujuan, mereka sebelumnya harus melewati hutan dan sungai yang cukup berbahaya.  Namun mereka tidak patah semangat, apapun mereka lakukan demi memenangkan sayembara.

Malampun datang dan mereka pun mulai kelaparan dan lelah. Akhirnya, mereka memutuskan untuk beristirahat dan mencari makan malam. Sesuai dengan perjanjian pembagian tugas, Rifa menyiapkan tempat untuk mereka tidur, sedangkan Dinda mencari makanan untuk mereka makan bersama. Setelah selang beberapa waktu, Rifa telah selesai mempersiapkan tempat untuk beristirahat, sedangkan Dinda hanya berhasil menemukan satu jamur untuk dimakan dan beberapa botol air untuk diminum.

“Rifa, bagaimana ini? Aku hanya menemukan satu jamur untuk makan malam kita, kita bagi dua saja ya?” Tawar Dinda.,

“Hmm, begini, kamu aja Dinda yang makan jamur itu, aku belum lapar kok, lagian besok kan kamu harus sehat biar bisa menyembuhkan raja” Jawab Rifa sambil tersenyum.

“Beneran nih, Rifa ngga papa? Kamu ngga lapar?” Tanya Dinda lagi. Setelah melihat Rifa menganggukan kepalanya sambil tersenyum, Dinda pun memakan jamur tersebut. Setelah selesai makan, keduanya pun beristirahat.

Keesokan pagi, mereka berdua bangun untuk melanjutkan perjalanan. Namun, hal mengejutkan terjadi. Suara Dinda hilang! Dinda tidak dapat berbicara sepatah katapun.

“Dinda! Dinda! Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?” Jerit Rifa histeris. Dinda hanya menggelengkan kepala, ia ingin sekali menjawab, namun tak bisa.

“Hmm, bagaimana ini? Kita tidak mungkin kembali ke desa, kita sudah berjalan setengah lebih. Oh iya, kita obati kamu di kerajaan saja, kudengar mereka juga punya tabib yang cukup hebat” Usul Rifa dengan agak ragu serta merasa kasihan melihat sahabatnya kehilangan suara merdunya.

Lalu sampailah mereka di kerajaan seberang, tempat dimana Raja jatuh sakit keras, namun, dikarenakan suara Dinda yang menghilang, mereka tidak dapat langsung menemui raja, mereka berkeliling untuk mencari tabib yang dapat mengembalikan suara Dinda.

Sudah berhari-hari mereka berkeliling mencari tabib, akhirnya mereka menemukan seorang kakek tua yang menurut rakyat sekitar mengerti mengenai berbagai penyakit. Saat tabib tersebut memeriksa Dinda, hasilnya mengejutkan! Ternyata jamur yang dimakan oleh Dinda semalam adalah jamur beracun! Dan untuk menyembuhkannya, diperlukan tanaman obat khusus yang ternyata hanya terdapat di desa tempat Dinda berasal. Desa sendang asih.

Dinda sangat kebingungan bagaimana ia mendapatkan tanaman khusus tersebut, lalu ia teringat, bahwa setelah lima hari, ayahnya akan menyusulnya kemari, ia hanya dapat berharap bahwa ayahnya membawa tanaman tersebut, entah bagaimana caranya.

Hari sudah memasuki hari keenam setelah kepergian Dinda, dan belum ada petunjuk tentang keberadaan ayahnya dan suara Dindapun belum muncul hingga saat ini. Dinda pun mulai putus asa dan mengajak Rifa untuk pulang kembali ke desanya.

Saat hendak meninggalkan kerajaan, tiba-tiba ayah Dinda muncul dari rerimbunan hutan, menghampiri Dinda dengan muka yang khawatir.

“Dinda, kamu tidak apa, nak? Sudah lima hari kamu belum pulang, jadi Ayah menyusul kesini, dan ini, Dinda, ayah bawakan tanaman yang kata warga desa bisa menjaga suaramu tetap merdu.” Sapa ayah Dinda sambil memberikan tanaman pada Dinda.

Dinda tak mampu berkata apapun, ia langsung memeluk tubuh ayahnya dengan sangat erat, lalu melepaskannya perlahan. Setelah itu, Dinda langsung memakan tanaman tersebut, seketika suara merdu Dinda kembali.

“Terima kasih Ayah! Berkat Ayah suara Dinda kembali, Dinda belum kembali ke desa karena Dinda belum menemui raja. Yuk, yah, kita temui raja dan menyembuhkannya sekarang juga!” Teriak Dinda riang sambil menarik ayahnya untuh menemui raja.

Sesampainya di istana, pengawal kerajaan langsung mempertemukan raja dengan Dinda, ayahnya, serta Rifa. Segera saja Dinda menyanyikan sebuah lagu dengan suaranya yang sangat merdu dan indah. Tidak sampai satu menit setelah lagu yang dibawakan Dinda selesai, raja pun terbangun dan melihat Dinda dengan wajah yang sumringah dan bahagia.

“Dinda, kau berhasil menyembuhkan aku! Aku tidak pernah merasakan sesehat ini sebelumnya. Terima kasih, Dinda! Pengawal, bawa beberapa kantung emas yang telah disiapkan untuk hadiah sayembara.” Pinta Raja

Dinda dan ayahnya pun tersenyum, syukurlah, batin mereka. Dinda sangat senang ia dapat membantu raja dan dapat memenangkan sayembara yang bernilai emas dengan jumlah besar, dengan emas yang diberikan sang raja, Dinda dan ayahnya, serta Rifa hidup bahagia dan sejahtera, dan ayah Dinda dapat hidup dengan tenang menikmati masa tuanya.

Bandung, 05 Mei 2011 20.54

P.S : I wrote this fairytale over a year ago, when my job became volunteer in Sekolah Fisip 4 was over, and we should made some short stories, collect it into a book, and give it to their school. Such a great project anyway, but I’m not really good at writing fairytale because of my bad imagination, sorry for that :p

Advertisements