Tentang Bicara

Bicara tentang Cinta,
Kata mereka, hati-hati jatuh cinta. Mudah, tapi efeknya besar. Mengapa harus ‘jatuh’? Ketika mereka mempertanyakan sebuah teka-teki, ‘jatuh apa yang paling menyenangkan?’ mungkin sebagian besar akan menjawab dengan ‘jatuh cinta’, saya pun demikian.

Dulu.

Bicara tentang sayang,
Haruskah sayang terucap ataukah dapat tersirat dengan segala tindakan? Sebagian besar mungkin akan menjawab bahwa rasa sayang dapat terasa secara tersirat, saya pun juga beranggapan demikian.

Dulu.

Bicara tentang Dia,
Bicara tentang kamu yang sudah beberapa lama ada di dalam hari saya. Sebagai teman baik, pendengar yang setia, motivator yang selalu bisa membuat senyum saya kembali. Saya sungguh berterimakasih pada semesta yang telah ‘tidak sengaja’ mempertemukan kita.

Dulu.

Saya jatuh cinta, saya sayang,
tapi katamu itu tak cukup. Ya, hidup bukan opera sabun yang hanya menyiarkan mimpi, fantasi, dan harapan. Ada saatnya kenyataan harus benar benar kita hadapi.

Kamu mengajarkan saya banyak hal,
tentang hidup, tentang masa lalu, tentang masa depan. Bagaimana semua pengalamanmu membuka mata saya untuk tetap hidup.
Kita mungkin sama-sama dipertemukan untuk belajar, sama-sama menaruh perasaan untuk tau bahwa hidup tak seindah di layar kaca. Walau pada akhirnya, ujungnya, tidak seperti yang saya bayangkan, mungkin yang kamu juga bayangkan. Saya tahu bukan saya yang salah, ataupun kamu. Bukan juga waktu.

Semesta, boleh saya meminta?
Saya lelah. Boleh saya beristirahat sebentar?

Jakarta, 14 Juli 2016
06.16 a.m

‘Kehilangan’ Budaya: Suatu Proses Homogenisasi

“Ah, ngga keren banget sih lo masa ngga pernah denger lagunya Maroon 5?  Makanya, kalo dengerin musik jangan lagu Indonesia terus, gaul dong sekali-sekali.”

Saya yakin beberapa diantara kita, atau bahkan sebagian besar pernah terlibat dalam percakapan seperti ilustrasi diatas. Ketika suatu bentuk kreasi yang berasal dari negaranya sendiri kemudian diberi label kuno, jelek, dan beberapa sebutan negatif lainnya. Bahkan jika kita boleh bandingkan isi playlist kita di handphone antara lagu-lagu barat dan lagu-lagu lokal, saya berani bertaruh sebagian besar diantara kita lebih banyak menyimpan lagu-lagu berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. Sadarkah bahwa sebenarnya kita sedang mengalami suatu proses ‘kehilangan budaya’?

Dalam hubungan internasional sendiri, dipelajari terdapat dua istilah, yakni culture blank dan culture blind. Culture blank adalah suatu keadaan ketika konsep budaya menghilang, budaya dianggap kosong, karena semua menjadi bersifat universal sehingga tidak ada lagi muncul konsep budaya itu sendiri yang merupakan identitas dari sebuah bangsa. Agak sedikit berbeda dengan culture blind, dimana budaya sebenarnya memang ada, tetapi keberadaannya tidak terlalu dilihat sebagai hal yang mempengaruhi dunia internasional.

Jika ditelusuri lebih lanjut, lagu-lagu yang dianggap ‘keren’ rata-rata berbahasa Inggris dan diproduksi oleh perusahaan rekaman di negara-negara barat. Konstruksi yang ditanamkan negara-negara barat kemudian membuat budaya-budaya yang dimiliki sebagai keunikan dari masing-masing negara sedikit demi sedikit kian terkikis. Kita tidak hanya dapat melihat kesamaan selera masyarakat yang banyak berminat untuk mendengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris, tetapi juga dewasa ini banyak penyanyi-penyanyi lokal di suatu negara yang menggunakan bahasa Inggris agar lagunya dapat diterima khalayak ramai atau bahkan untuk dapat berkarir go international. Peristiwa dan keadaan inilah yang kemudian membuat saya berpikir bahwa hubungan internasional memiliki kecenderungan mengarah pada culture blank atau kekosongan budaya.

Proses homogenisasi sedang terjadi dalam dunia internasional saat ini, proses menuju kekosongan budaya. Budaya, yang sudah mulai menjadi ‘hal’ yang bersifat universal, bahkan mungkin tidak lagi layak untuk disebut ‘budaya’ karena tidak memiliki keunikan sendiri sebagai identitas. Tidak hanya lagu dan musik saja, tetapi uniformasi sudut pandang juga sudah mulai terbentuk disini, konstruksi-konstruksi baru bermuncul sebagai suatu bentuk penolakan atas tudingan yang dialamatkan pada sebuah objek, yang kemudian akan  mempengaruhi pola dan tingkah laku kita.

Hubungan internasional juga mulai bergerak kepada proses yang mengarah kepada culture blank. Seperti yang diyakini oleh kaum idealis, bahwa dengan adanya keseragaman ide dan nilai kemudian mampu membuat dunia lebih baik dan berdamai, seperti yang terlihat dalam konsep democratic peace theory, yang percaya bahwa negara yang sama-sama menganut faham demokrasi tidak akan pernah berperang dan akan lebih mudah untuk melakukan kerjasama. Hal ini yang kemudian membuat negara-negara penganut non-demokrasi mulai tergerak untuk berpindah haluan agar semua kerjasama dan hubungan yang mereka lakukan dapat terlaksana tanpa hambatan.

Beberapa pemaparan diatas mungkin hanya merupakan langkah awal dari sebuah proses homogenisasi budaya dan walaupun culture blank belum berlaku secara utuh saat ini, tetapi terlihat adanya potensi yang cukup kuat ketika proses ini suatu saat akan sampai pada keadaan dimana dunia benar-benar memiliki keseragaman identitas, dan tanpa batas. Borderless World.

Dilema Perbedaan

Image

source: google

Aku dan dia berbeda, aku dan dia tidak memiliki jalan yang sama, otak kami selalu beradu, pemikiran kami selalu bergesekan. Aku dan dia memiliki pola pikir yang berbeda, tak pernah bersama dalam mengkiritisi fenomena. Aku dan dia berbeda, tak pernah seirama. Ia memilih kanan, aku cenderung memilih kiri. Aku memilih pulang, ia bersikukuh untuk tetap tinggal, seperti tak ada yang dapat menyatukan hati dan juga pemikiran kami.

Aku dan dia mungkin diciptakan berbeda. Berbeda keyakinan dan berbeda sudut pandang. Emosi menjadi satu-satunya hal yang selalu mempertemukan kami, kami selalu berujung pada satu teriakan, yang jelas-jelas bukan teriakan bahagia atau haru. Perbedaan selalu membuat kami berjalan sendiri, walaupun pada kenyataannya kami sedang berjalan beriringan. Perbedaan membuat kami merasa jauh, walaupun kenyataannya kami berada sangat dekat.

Kompetisi. Mungkin itu yang sedang kami lakukan, kompetisi untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal. Berusaha untuk menjadi ‘lebih’ dari yang mereka pikirkan. Tetapi kompetisi ini mulai tidak sehat, perbedaan ini mulai memperlihatkan kekuatannya yang membuat jurang pemisah antara aku dan dia. Aku dan dia seperti sudah tidak saling percaya, karena perbedaan. Aku dan dia berbeda, sangat berbeda dalam segala hal.

Ya, aku dan dia mungkin memang berbeda, mungkin tak pernah sejalan, dan mungkin tak pernah dapat menyuarakan pendapat yang sama. Tetapi, bukankah Tuhan memang menciptakan perbedaan itu? Dan ia menciptakan itu bukan hanya semata-mata untuk menimbulkan perpecahan. Ia menciptakannya justru untuk membuat manusia belajar bagaimana ia dapat hidup berdampingan satu sama lain, dengan berbagai karakter dan sifat. Dan kupikir, kami sedang melakukan hal itu. Mencoba untuk berlaku seimbang dan tidak hanya terpaku pada kepentingan pribadi yang selalu berusaha ingin lebih dari yang lain. Ya, ini susah. Tapi kami tahu, walaupun tersirat dan tak terucap, kami akan berusaha mempertahankan ini, terus, dan terus.