Tentang Bicara

Bicara tentang Cinta,
Kata mereka, hati-hati jatuh cinta. Mudah, tapi efeknya besar. Mengapa harus ‘jatuh’? Ketika mereka mempertanyakan sebuah teka-teki, ‘jatuh apa yang paling menyenangkan?’ mungkin sebagian besar akan menjawab dengan ‘jatuh cinta’, saya pun demikian.

Dulu.

Bicara tentang sayang,
Haruskah sayang terucap ataukah dapat tersirat dengan segala tindakan? Sebagian besar mungkin akan menjawab bahwa rasa sayang dapat terasa secara tersirat, saya pun juga beranggapan demikian.

Dulu.

Bicara tentang Dia,
Bicara tentang kamu yang sudah beberapa lama ada di dalam hari saya. Sebagai teman baik, pendengar yang setia, motivator yang selalu bisa membuat senyum saya kembali. Saya sungguh berterimakasih pada semesta yang telah ‘tidak sengaja’ mempertemukan kita.

Dulu.

Saya jatuh cinta, saya sayang,
tapi katamu itu tak cukup. Ya, hidup bukan opera sabun yang hanya menyiarkan mimpi, fantasi, dan harapan. Ada saatnya kenyataan harus benar benar kita hadapi.

Kamu mengajarkan saya banyak hal,
tentang hidup, tentang masa lalu, tentang masa depan. Bagaimana semua pengalamanmu membuka mata saya untuk tetap hidup.
Kita mungkin sama-sama dipertemukan untuk belajar, sama-sama menaruh perasaan untuk tau bahwa hidup tak seindah di layar kaca. Walau pada akhirnya, ujungnya, tidak seperti yang saya bayangkan, mungkin yang kamu juga bayangkan. Saya tahu bukan saya yang salah, ataupun kamu. Bukan juga waktu.

Semesta, boleh saya meminta?
Saya lelah. Boleh saya beristirahat sebentar?

Jakarta, 14 Juli 2016
06.16 a.m

It’s all about Faith and The ‘Happy-Ending-Expectations’

Image

source: google
Β 

And I keep waiting for the day when this story is going to meet the end. Did I ever mention I hate the whole-happy-endings-on-drama thingy bcause its seems soo impossible? I really don’t mean to be pessimistic or sceptical, I just trying to be realistic. But yeah, as I told you, The universe will always and always made you learn to appreciate the efforts which they’ve already done.

Perhaps, its not about ‘what’ are the universe trying to tell us the suitable situation for us, but, its all about ‘how’ they guide us to something which we already have the faith on it, deep down.
And it will never goes wrong, what will happen in the future, its what you’ve been thinking, expecting, and believing it’ll happen.

So does this story. I have a faith on how this story is going to reach the end. Either it will be a happy-ending-story or sad-ending-story for me, I believe that, for you, its gonna be a happy-ending-story.

“Because maybe it’s dumb to look for signs from the universe, maybe the universe has better things to do – and dear God, I hope it does. Do you know how many signs I’ve gotten, how I should and shouldn’t be with someone? Where has it gotten me? Maybe there aren’t any signs. Maybe a locket’s just a locket; a chair’s just a chair. Maybe we don’t have to give meaning to every little thing. Maybe we don’t need the universe to tell us what we really want. Maybe we already know that. Deep down.” – Ted Mosby (How I Met Your Mother 8.23)

Ekspektasi Logika: Sia-sia?

Dan aku selalu bertanya, apakah pada akhirnya semua akan sia-sia? Apakah perjuangan, harapan, mimpi, dan semua yang menanti di masa depan tak akan terjadi sesuai ekspektasi logika?Β Aku terbiasa mendapatkan segalanya. Ambisi, keinginan, dan ego yang selalu mendominasi akal sehat membuatku merasa harus mendapatkan apa yang kumau, sehingga tak ada sedikitpun yang kurasa sia-sia atas usaha yang kulakukan.

Sampai aku bertemu pada satu subjek yang sangat, amat, memberikan pelajaran bahwa tak semua yang kauinginkan bisa kaudapatkan, walaupun mungkin kau pikir kau telah melakukan segala usaha dan daya hingga entah harus berbuat apalagi. Hingga datang pada titik dimana kau akan mempertanyakan, apakah sesuatu memang layak untuk tetap diperjuangkan? atau lebih baik kau menyerah saja?

Cukup lama pula perdebatan itu bercokol dalam otakku, membagi logikaku dengan bidang akademik serta hal lainnya. Setelah beberapa waktu, tak sengaja aku menemukan sederet kalimat seseorang di linimasa salah satu jejaring sosial, Tuhan akan memberikan apa yang kau butuhkan, bukan yang kamu inginkan, ujarnya.

Tuhan lebih tau apa yang kau butuhkan dan ketika ia belum memberikan hal yang kamu inginkan, berarti Ia tahu, hal itu belum kau butuhkan. Ia akan memberikannya padamu, mungkin nanti, atau tidak sama sekali karena kamu sudah cukup kuat dengan semua instrumen-instrumen yang telah dianugerahkan kepadamu.

Ya, jika sudah seperti ini, apakah semua yang kau lakukan sia-sia hanya karena kau tak mendapat apa yang kau inginkan? Tidak. Tuhan selalu memberikan pelajaran lewat setiap skenario yang menjadikanmu aktor didalamnya. Agar kamu bisa belajar dan mengambil apa-apa saja yang dapat membuatmu semakin tangguh, semakin kuat.

Perbedaan, Suatu Kesadaran Otak Realis dalam Liberalis

Manusia, selalu diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Klise? Memang. Tetapi, apakah subjek yang dianggap klise ini telah dimaknai mendalam oleh setiap ia yang hadir di dunia? Kurasa belum. Perbedaan, Aku meyakini bahwa perbedaan adalah salah satu cara semesta memberi pelajaran untuk dapat saling mengisi dan menghargai. Dengan perbedaan, manusia bisa belajar untuk membagi apa yg menjadi kelebihannya, dan memaklumi apa yg menjadi kekurangan manusia lainnya. Kekurangan yang ia miliki, dapat ditambal dengan kelebihan yang dimiliki manusia lain, begitu juga sebaliknya, kekurangan yang dimiliki manusia lain, dapat dikamuflasekan oleh kelebihan yang ia miliki.

Tetapi sepertinya, aku yang berotak liberal ini kemudian harus menyadari bahwa tak semua subjek memiliki pandangan dan prinsip yang sama, tak semua manusia ingin belajar dari perbedaan, dan tak sedikit dari mereka yang berotak kontras denganku. Otak realis mereka berpandangan, ketika mereka telah memiliki kelebihan yang bisa dibanggakan, mereka merasa sama sekali tak membutuhkan manusia lain untuk mengaburkan kekurangan yang mereka miliki.

Bukankah setiap manusia hadir disini sepaket baik-buruknya? hitam-putihnya? sisi dewasa dan ke-kanak-kanak-annya? sisi feminin dan maskulinnya? Beserta hal kontras lainnya? Dimana sebuah bentuk penghargaan yang ada, sebagai seseorang yang telah memutuskan untuk menerima seseorang lainnya untuk hidup serta hadir dalam harinya? Bukankah itu konsekuensi yang sejak awal harusnya disadari, yang secara implisit terucap saat mereka bertemu, ‘aku-menerima-kamu-tak-hanya-saat-senang-tetapi-juga-saat-kau-berada-di-titik-terendahmu’

Saat ini aku tak hanya berceloteh tentang perbedaan, tetapi juga tentang komitmen. Ya, komitmen. Perbedaan hanyalah sebuah batu kecil di sebuah pegunungan yang ingin kau capai puncaknya. Komitmen juga tak melulu masalah asmara ataupun organisasional seperti yang terpikirkan manusia pada umumnya. Menjadikan seorang manusia sebagai orang yang dipercaya, sebagai orang yang selalu dapat diandalkan dan tak pernah disangka akan ‘berkhianat’, manusia berotak liberal percaya dengan istilah sahabat, adalah sebuah keputusan yang sangat-sangat besar, dan keputusan itu bukan terletak pada otakmu, logikamu sama sekali tak ikut ambil bagian. Tetapi hati, ia sendiri yang bekerja ekstra keras untuk memilah dan menempatkan siapakah yang seharusnya dan memang layak untuk diperjuangkan.

Bandung, 30 Juni 2013

2.12 pm