[Monthly Love Letter] December: The First 30 Days

“Satu rasa itu ada pada waktunya, satu cinta itu terungkap pada akhirnya. Satu hal yang jauh kau cari, tanpa kau sadari berdiri sekian lama, bukan dibelakangmu, bukan didepanmu, namun tepat disampingmu.”

He may not be as sweet as another in words, he may not be as cute and romantic as another one. He may seems jokeful and never take things seriously, he may looks he didn’t love his girl tenderly.

But hey; every person has their own way to express their careness to their love ones. And he, do all the things that make his girl feel grateful to have him.

He called up his girl only to make sure she has a good day, he stayed up til midnight, told a lot of stories which could make his girl laugh so hard til she forgot all the things that annoyed her. He, the one who made himself, broke his walls and fences of his principal just to be with her. He, who always think logically, buildin’ plans a way faraway from now, to make the dreams come true.

He’s my silly bestfriend, my partner in crime, my brother that I never have, my story teller, my laugh-machine, my first-row-supporter, my other half. He’s my everything and I thank for all the things that already passed and a couple time ahead which yet to come 🙂

Advertisements

Tentang Bicara

Bicara tentang Cinta,
Kata mereka, hati-hati jatuh cinta. Mudah, tapi efeknya besar. Mengapa harus ‘jatuh’? Ketika mereka mempertanyakan sebuah teka-teki, ‘jatuh apa yang paling menyenangkan?’ mungkin sebagian besar akan menjawab dengan ‘jatuh cinta’, saya pun demikian.

Dulu.

Bicara tentang sayang,
Haruskah sayang terucap ataukah dapat tersirat dengan segala tindakan? Sebagian besar mungkin akan menjawab bahwa rasa sayang dapat terasa secara tersirat, saya pun juga beranggapan demikian.

Dulu.

Bicara tentang Dia,
Bicara tentang kamu yang sudah beberapa lama ada di dalam hari saya. Sebagai teman baik, pendengar yang setia, motivator yang selalu bisa membuat senyum saya kembali. Saya sungguh berterimakasih pada semesta yang telah ‘tidak sengaja’ mempertemukan kita.

Dulu.

Saya jatuh cinta, saya sayang,
tapi katamu itu tak cukup. Ya, hidup bukan opera sabun yang hanya menyiarkan mimpi, fantasi, dan harapan. Ada saatnya kenyataan harus benar benar kita hadapi.

Kamu mengajarkan saya banyak hal,
tentang hidup, tentang masa lalu, tentang masa depan. Bagaimana semua pengalamanmu membuka mata saya untuk tetap hidup.
Kita mungkin sama-sama dipertemukan untuk belajar, sama-sama menaruh perasaan untuk tau bahwa hidup tak seindah di layar kaca. Walau pada akhirnya, ujungnya, tidak seperti yang saya bayangkan, mungkin yang kamu juga bayangkan. Saya tahu bukan saya yang salah, ataupun kamu. Bukan juga waktu.

Semesta, boleh saya meminta?
Saya lelah. Boleh saya beristirahat sebentar?

Jakarta, 14 Juli 2016
06.16 a.m

It’s all about Faith and The ‘Happy-Ending-Expectations’

Image

source: google
 

And I keep waiting for the day when this story is going to meet the end. Did I ever mention I hate the whole-happy-endings-on-drama thingy bcause its seems soo impossible? I really don’t mean to be pessimistic or sceptical, I just trying to be realistic. But yeah, as I told you, The universe will always and always made you learn to appreciate the efforts which they’ve already done.

Perhaps, its not about ‘what’ are the universe trying to tell us the suitable situation for us, but, its all about ‘how’ they guide us to something which we already have the faith on it, deep down.
And it will never goes wrong, what will happen in the future, its what you’ve been thinking, expecting, and believing it’ll happen.

So does this story. I have a faith on how this story is going to reach the end. Either it will be a happy-ending-story or sad-ending-story for me, I believe that, for you, its gonna be a happy-ending-story.

“Because maybe it’s dumb to look for signs from the universe, maybe the universe has better things to do – and dear God, I hope it does. Do you know how many signs I’ve gotten, how I should and shouldn’t be with someone? Where has it gotten me? Maybe there aren’t any signs. Maybe a locket’s just a locket; a chair’s just a chair. Maybe we don’t have to give meaning to every little thing. Maybe we don’t need the universe to tell us what we really want. Maybe we already know that. Deep down.” – Ted Mosby (How I Met Your Mother 8.23)

Ekspektasi Logika: Sia-sia?

Dan aku selalu bertanya, apakah pada akhirnya semua akan sia-sia? Apakah perjuangan, harapan, mimpi, dan semua yang menanti di masa depan tak akan terjadi sesuai ekspektasi logika? Aku terbiasa mendapatkan segalanya. Ambisi, keinginan, dan ego yang selalu mendominasi akal sehat membuatku merasa harus mendapatkan apa yang kumau, sehingga tak ada sedikitpun yang kurasa sia-sia atas usaha yang kulakukan.

Sampai aku bertemu pada satu subjek yang sangat, amat, memberikan pelajaran bahwa tak semua yang kauinginkan bisa kaudapatkan, walaupun mungkin kau pikir kau telah melakukan segala usaha dan daya hingga entah harus berbuat apalagi. Hingga datang pada titik dimana kau akan mempertanyakan, apakah sesuatu memang layak untuk tetap diperjuangkan? atau lebih baik kau menyerah saja?

Cukup lama pula perdebatan itu bercokol dalam otakku, membagi logikaku dengan bidang akademik serta hal lainnya. Setelah beberapa waktu, tak sengaja aku menemukan sederet kalimat seseorang di linimasa salah satu jejaring sosial, Tuhan akan memberikan apa yang kau butuhkan, bukan yang kamu inginkan, ujarnya.

Tuhan lebih tau apa yang kau butuhkan dan ketika ia belum memberikan hal yang kamu inginkan, berarti Ia tahu, hal itu belum kau butuhkan. Ia akan memberikannya padamu, mungkin nanti, atau tidak sama sekali karena kamu sudah cukup kuat dengan semua instrumen-instrumen yang telah dianugerahkan kepadamu.

Ya, jika sudah seperti ini, apakah semua yang kau lakukan sia-sia hanya karena kau tak mendapat apa yang kau inginkan? Tidak. Tuhan selalu memberikan pelajaran lewat setiap skenario yang menjadikanmu aktor didalamnya. Agar kamu bisa belajar dan mengambil apa-apa saja yang dapat membuatmu semakin tangguh, semakin kuat.